Anak muda dan ambisinya

Di siang hari yang terik kemarin, saya mendapati diri terjebak dalam sebuah arena gladiator retorika yang tak terduga (putis sekali bahasanya. Tak apa, namanya juga spontan). Hari itu, sejatinya, adalah hari yang telah saya canangkan sebagai hari lepas. Hari di mana otak hanya boleh memproses hal-hal remeh seperti angin yang menyapu wajah atau pahitnya kopi tanpa gula. Namun, takdir berkata lain melalui mulut seorang anak "muda" (saya pun masih muda) yang berapi-api. Ia datang bukan hanya dengan pertanyaan, melainkan dengan semacam manifesto yang, jika direnungkan, penuh dengan paradoks yang menggemaskan sekaligus melelahkan.

Awalnya, saya mencoba meredam sesi tanya-jawab yang mulai melebar ke arah metafisika itu dengan jawaban paling pragmatis yang saya punya. Ketika ditanya soal posisi atau praduga tertentu oleh seorang kawan, saya menjawab sekenanya, "Pragmatisnya, biarlah Tuhan yang tahu." Bagi saya, itu adalah titik. Sebuah kalimat sakral yang biasanya mematikan diskusi panjang di warung makan langganan kami. Namun, anak "muda" ini berbeda. Dengan semangat membara yang nyaris membakar ubun-ubun, ia berseru, "Loh.. loh.. loh.. ga bisa langsung ke Tuhan!"

Saya tersenyum kecut. Bukan karena saya tersinggung, melainkan karena saya melihat sebuah pemandangan yang langka: seorang manusia yang sangat bersemangat menyampaikan sesuatu, namun lupa memasang telinganya. Ia persis seperti burung tekukur yang asyik berkicau di dahan rendah, tanpa sadar bahwa di balik semak, ada pemburu yang sudah membidikkan senapannya. Suaranya nyaring, warnanya indah, tetapi ia tidak membaca situasi. Ia tidak ingin mendengar; ia hanya ingin didengar.

Namun, justru di situlah asiknya. Di tengah keinginan saya untuk berleha-leha, otak saya terusik oleh inti argumentasinya yang secara fundamental problematis dan sulit dipertanggungjawabkan. Ia membawa-bawa nama para ahli: profesor, dokter, psikolog, filsuf, bahkan nabi (jika perlu). Inti implisitnya jelas: "Kita—mahasiswa, tukang bakso, tukang es teh, dan segenap rakyat jelata intelektual—tidak diperkenankan membuat pra-hipotesis. Jangan sok tahu! Serahkan semua pada yang ahli!"

Argumen ini sekilas terdengar rendah hati. Terdengar seperti ajakan untuk menghormati ilmu pengetahuan dan otoritas. Tetapi, semakin ia bersemangat, semakin terang benderang kejanggalan itu. Ia melarang kami membuat pra-hipotesis atau berpendapat, sementara ia sendiri—seorang mahasiswa yang jelas bukan ahli di bidang yang ia bicarakan—sedang berpendapat dengan lantangnya. Ia mengutip para ahli bukan untuk membuka ruang diskusi, melainkan untuk menutupnya rapat-rapat. Ia meminta kami diam, sembari ia sendiri berteriak.

Di sinilah logika itu mencapai puncak kerapuhannya. Saya menatapnya lekat-lekat, mengingat bahwa kami berada di bawah naungan fakultas yang sama. Kami sama-sama mahasiswa. Kami sama-sama sedang belajar untuk berpikir, untuk mempertanyakan, dan untuk kelak—mungkin—menjadi "ahli" itu sendiri. Maka, dengan nada sedatar mungkin, saya lontarkan sebuah batu kecil ke dalam kolam intelektualnya. Saya bertanya, "Jika memang benar bahwa kita harus menyerahkan segala tafsir dan pendapat hanya kepada tangan 'yang ahli', maka dalam konteks kita sebagai mahasiswa, yang berhak bicara teologis, menafsir dan berdiskusi hanyalah dosen. Lalu,  Untuk apa kita kuliah?"

Pertanyaan itu meluncur sederhana, tanpa beban. Namun efeknya luar biasa. Anak muda itu terdiam. Bukan diam yang berarti mengerti, melainkan diam yang kosong. Kebingungan mulai merayapi wajahnya. Api-api di matanya meredup, berganti menjadi asap yang tak tentu arah. Aku pun bingung. Bukan karena pertanyaanku sendiri, melainkan bingung menyaksikan bagaimana sebuah bangunan argumen yang dipertahankan dengan begitu besar dan benar (menurutnya) bisa runtuh hanya oleh satu pertanyaan elementer. Semua kawan di sekitar kami ikut bingung. Hening sejenak, hanya suara obrolan orang disamping kami dan suapan nasi kemulut dan bising motor di kejauhan yang menemani paradoks yang menggantung di udara itu.

Saya tidak menunggu jawaban. Ada kerjaan lain yang lebih mendesak, dan sejujurnya, ada keinginan untuk kembali ke tujuan awal hari itu: lepas. Saya pamit dan melangkah pergi. Saat berjalan menjauh, saya merenungkan apa yang baru saja terjadi. Anak muda itu mewakili sebuah generasi yang mungkin terlalu cepat jatuh cinta pada "kebenaran tunggal" yang dibungkus oleh label otoritas. Ia lupa bahwa ilmu pengetahuan, filsafat, dan bahkan teologi, tumbuh bukan dari kepatuhan bisu, melainkan dari pra-hipotesis yang liar, dari pertanyaan nyeleneh yang dianggap tidak perlu.

Kita memang tidak perlu sok tahu. Tetapi, bukankah keberanian untuk "membuat pra-hipotesis"—sebuah dugaan awal yang mungkin salah—adalah fondasi dari segala proses belajar? Tanpa keberanian untuk berpikir sendiri sebelum mendengar kata final sang profesor, kita hanyalah mesin fotokopi yang canggih. Kita adalah burung beo yang pandai menirukan suara ahli, tetapi lumpuh saat harus berkicau sendiri di tengah belantara. Anak "muda" itu menginginkan kami diam dan menyerahkan segalanya pada Tuhan dan para ahli, tanpa sadar bahwa untuk bisa memahami firman Tuhan atau kata-kata ahli sekalipun, manusia membutuhkan akal budinya sendiri untuk bertanya.

Pada akhirnya, saya bersyukur meninggalkan arena itu. Di siang hari yang melelahkan itu, saya belajar bahwa terkadang, suara paling keras bukan berasal dari mereka yang ingin menyelesaikan masalah, melainkan dari mereka yang sedang bergulat dengan bayangannya sendiri. Dan bagi saya, mendengarkan burung berkicau sambil menyadari bahwa ia tak peduli pada pemburu di dekatnya, adalah hiburan yang cukup untuk menemani sisa hari lepas saya.

Komentar

Postingan Populer