Gemetar di ambang ketidaktahuan


Di ruang doa ini, dinding-dindingnya tidak lagi menjadi batas antara sakral dan profan. Ia justru melebur menjadi saksi bisu atas satu-satunya tindakan yang bisa kulakukan dengan jujur saat ini: menanggalkan segala kepalsuan tahu. Di hadapan Misteri, kata-kata teologis yang dulu kugenggam erat bagai pedang kebenaran, tiba-tiba berubah menjadi abu di telapak tangan. Aku datang ke sini bukan untuk mengajukan petisi yang terstruktur rapi, bukan pula untuk memamerkan deretan atribut ilahi yang telah kuhafal di luar kepala. Aku datang justru untuk mengakui bahwa seluruh proyek intelektual dan spiritual yang membangun menara "ke-sok-tahuan" itu sejatinya adalah jeruji penjara yang paling kokoh.

Ada semacam paradoks yang menampar kesadaran ketika lutut menyentuh lantai dingin ini. Seumur hidup, aku diajari untuk mencari definisi, untuk mendeskripsikan Yang Tak Terhingga ke dalam kosa kata yang terbatas. Kita, para peziarah iman, seringkali lebih mencintai peta perjalanan daripada negeri yang dituju itu sendiri. Kita menciptakan dogma, sistematika, dan apologetika yang canggih. Kita merasa aman ketika bisa menjawab setiap pertanyaan tentang Tuhan dengan ayat dan dalil yang fasih. Namun, bukankah di situlah letak kesombongan paling primordial? Keinginan untuk "tahu" secara mutlak adalah keinginan untuk mengontrol. Jika aku sudah merasa tahu sepenuhnya siapa Engkau, maka Engkau bukan lagi Misteri yang membebaskan, melainkan berhala yang kubentuk dari lempung nalarku sendiri. Ruang doa ini lantas menjadi medan dekonstruksi. Aku diundang untuk berhenti menjadi teolog yang gagah berani, dan mulai menjadi manusia yang telanjang dalam ketidaktahuannya.

Menyerahkan "ke-sok-tahuan" bukan berarti mematikan akal budi atau merayakan kebodohan. Ini adalah lompatan eksistensial yang jauh lebih sulit: berani berdiam dalam ambiguitas. Aku melihat bayanganku sendiri di kaca jendela ruang ini, dan aku bertanya, seberapa banyak dari imanku selama ini yang sesungguhnya hanyalah proyeksi egoku? Seberapa sering aku menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan prasangkaku sendiri? Di titik ini, refleksi teologis  justru lahir dari keberanian untuk membungkam suara-suara pasti itu. Aku memandang salib, atau simbol keabadian di hadapanku, dan aku tak lagi mencoba merumuskannya dalam teori Cur Deus Homo atau perdebatan Filioque. Aku hanya memandangnya sebagai undangan untuk masuk ke dalam sunyi, di mana pengetahuan digantikan oleh perjumpaan, dan definisi digantikan oleh keheningan.

Di sinilah aku mengerti bahwa iman yang dewasa adalah iman yang sanggup berkata, "Aku tidak mengerti, tetapi aku percaya." Kalimat itu bukanlah pelarian dari tanggung jawab berpikir. Ia justru adalah pengakuan jujur bahwa akal budi memiliki batas tepi, dan di luar tepi itu terbentang Samudra Misteri yang tak terselami. Aku menyerahkan semua tumpukan buku teologi, semua atribut, semua pengalaman mistik yang sering kujadikan jimat pembeda diriku dengan "orang awam". Aku melepaskannya seperti daun kering yang jatuh dari ranting. Rasanya menakutkan, karena selama ini aku adalah apa yang kuketahui. Lalu, siapakah aku jika aku tidak tahu apa-apa? Pertanyaan itu kini tidak lagi membutuhkan jawaban verbal. Ia hanya perlu dihempaskan ke dalam keheningan Ilahi.

Ruang ini tidak menawarkan jawaban baru. Ia hanya menawarkan ruang—sebuah kelapangan untuk bernapas tanpa harus membawa beban kepastian. Aku sadar, menyerahkan diri kepada Misteri adalah tindakan pasrah yang paling aktif. Aku berhenti menggenggam, maka aku menerima. Aku berhenti mendikte bagaimana seharusnya Tuhan bekerja, maka aku bisa melihat jejak-Nya yang seringkali tersamar dalam hal-hal remeh dan tak terduga. Teologi yang lahir dari ruang doa semacam ini bukanlah teologi yang arogan, melainkan teologi yang rendah hati. Ia adalah teologi yang gemetar. Ia tidak lagi berani mengklaim memiliki cetak biru surga, melainkan hanya berani berbisik, "Tuhan, kasihanilah aku, orang yang merasa tahu ini."

Di penghujung keheningan ini, aku tidak menjadi lebih pintar. Justru sebaliknya, aku merasa kian bodoh, namun dalam kebodohan itulah ada kelegaan yang aneh. Aku tidak perlu lagi mempertahankan citra diri sebagai orang yang "rohani" atau "paham". Aku hanya perlu menjadi manusia yang berdiri telanjang di hadapan Misteri, membiarkan tatapan Kasih itu memandangiku apa adanya, melampaui segala atribut dan konsep. Ruang doa telah mengajariku bahwa iman yang sejati bukanlah memiliki jawaban atas segala teka-teki, melainkan memiliki keberanian untuk menaruh tangan di mulut, berhenti bicara, dan membiarkan diri ditelan oleh samudra sunyi yang bernama Tuhan. Dan di dalam sunyi yang kudus ini, "ke-sok-tahuan" itu akhirnya mati dengan tenang, digantikan oleh getaran jiwa yang hanya bisa merangkai satu kata paling purba: Amin. Biarlah Misteri itu tetap menjadi Misteri, karena di sanalah letak keselamatanku dari diriku sendiri.

Komentar

Postingan Populer