God above God: Mampukah Pikiran Menyentuh yang Tak Terpikirkan?

"Di tengah jus pisang yang manis dan kesukaan dan ditemani oleh buku yang sedikit mengundang riak, tulisan ini tercipta begitu tak tersusun dan begitu aneh jika dibaca. Sebenarnya ini untuk menjawab apa yang semula menjadi pertanyaan. Jadi, mari sedikit kita bermain-main sambil menunggu temanku selesai kerjanya. Ngomong-ngomong jus pisangnya enak... Aku lebih suka jus sekarang ketimbang kopi.. Tapi, bukan berarti kopi adalah sejarah. Ia hanya butuh penyesuaian saja." 


"God Above God: Mampukah Pikiran Menyentuh yang Tak Terpikirkan?"

- dicatat dengan jus pisang dengan kesukacitaannya.

Di tengah hiruk-pikuk pencarian spiritual, kita kerap terjebak dalam dikotomi yang tampak sederhana: memikirkan Tuhan versus merasakan Tuhan. Seolah-olah akal budi dan pengalaman batin berjalan di rel yang berbeda, yang satu kering dan analitis, yang lain basah dan intim. Pertanyaan “apakah Allah yang dipikirkan berarti bisa dirasakan lewat pikiran?” menyentuh persoalan mendasar ini, dan membawa kita pada medan reflektif yang digarap secara mendalam oleh teolog eksistensialis Paul Tillich. Bagi Tillich, persoalannya bukan sekadar menjembatani dua kutub, melainkan merombak total kerangka berpikir yang membuat kita memisahkan “memikirkan” dari “merasakan” dalam konteks Yang Ilahi. Melalui refleksi yang mendalam, kita bisa menyelami apakah pikiran, yang kerap dicurigai sebagai penjara konsep, mampu menjadi ruang perjumpaan, atau justru selalu menjadi berhala yang menutupi Wajah yang tak terobjektivikasi. Tillich terkenal dengan kritiknya terhadap teisme tradisional yang menempatkan Allah sebagai “sebuah ada” (a being) di antara ada-ada yang lain, sekalipun sebagai Ada Yang Mahatinggi. Dalam kerangka seperti itu, Allah menjelma objek pikiran: entitas yang bisa didefinisikan, dibuktikan, dan dinalar sebagaimana kita menalar benda-benda di dunia. Namun, justru di sini letak bahayanya: ketika Allah dijadikan objek, kita tanpa sadar telah mereduksi-Nya menjadi bagian dari realitas terbatas. Memikirkan Allah dalam modus ini, kata Tillich, adalah tindakan yang menjauhkan dari Allah yang sesungguhnya. Allah yang dipikirkan sebagai “benda agung” bukanlah Allah yang hidup, melainkan proyeksi konseptual kita. Dalam arti ini, memikirkan sama sekali bukan merasakan, bahkan ia menjadi tameng yang melindungi kita dari perjumpaan eksistensial yang mengguncang.

    Akan tetapi, Tillich tidak membuang akal budi ke keranjang sampah spiritualitas. Baginya, persoalan terletak pada orientasi pikiran, bukan pada aktivitas berpikir itu sendiri. Ketika ia merumuskan Allah sebagai “Dasar dari Ada” (Ground of Being) atau “Yang Menjadi Perhatian Utama” (ultimate concern), ia sedang mengajak kita untuk mengubah cara berpikir. Memikirkan Allah bukan lagi soal menyusun proposisi tentang suatu objek, melainkan sebuah tindakan partisipatif: pikiran yang dihayati sebagai bagian dari totalitas eksistensi yang terarah pada Yang Tak Terbatas. Di titik ini, “memikirkan” mulai bergeser maknanya. Ia bukan lagi sekadar aktivitas kognitif, melainkan ekspresi dari keterlibatan seluruh diri. Jika ultimate concern adalah sesuatu yang menyentuh pusat keberadaan kita, maka memikirkannya tidak bisa steril dari rasa gentar, hasrat, atau bahkan kegelisahan. Pikiran yang lahir dari perhatian utama pasti bermuatan afeksi. Ia bergetar, bukan membeku. Namun, ketegangan tetap ada. Tillich sendiri sangat berhati-hati agar tidak mencampuradukkan iman dengan perasaan subjektif belaka. Iman sebagai ultimate concern adalah tindakan seluruh pribadi, melampaui dikotomi pikiran-perasaan-kehendak. Jadi, jika bertanya “apakah memikirkan berarti merasakan?” dalam kerangka Tillich, jawabannya tidak bisa hitam atau putih. Pikiran yang otentik tentang Allah, yakni pikiran yang disadari sebagai simbol yang menunjuk melampaui dirinya sendiri, selalu melibatkan unsur ekstase. Ekstase di sini bukan berarti histeria emosional, melainkan kondisi di mana akal budi “berdiri di luar dirinya” (ek-stasis) tanpa kehilangan kesadarannya. Dalam ekstase, pikiran tidak lagi mencengkeram objeknya, melainkan ditangkap oleh Yang Tak Terbatas. Dengan demikian, memikirkan Allah secara radikal bisa menjadi bentuk perjumpaan, dan perjumpaan selalu terasa.

    Kritisisme terhadap gagasan ini patut diajukan: bukankah ekstase akal budi adalah pengalaman langka, sementara keseharian kita dipenuhi oleh pikiran-pikiran biasa tentang Tuhan yang jauh dari getaran mistis? Seorang skeptis bisa berkata bahwa kebanyakan teologi justru jatuh pada “Allah para filsuf” yang bersifat dingin, abstrak, dan tak menyentuh batin. Tillich menyadari bahaya ini, itulah sebabnya ia menekankan bahwa pernyataan teologis harus dipahami sebagai simbol. Simbol berbeda dengan tanda: ia berpartisipasi dalam realitas yang ditunjuknya. Jadi, ketika seseorang memikirkan “Allah adalah Kasih”, ia tidak sekadar mengingat definisi, melainkan, jika kesadarannya terbuka, berpartisipasi dalam kekuatan Kasih itu sendiri melalui simbol tersebut. Pikiran di sini menjadi medium partisipasi, bukan sekadar representasi. Meski begitu, pertanyaan lanjutannya: bisakah partisipasi terjadi tanpa unsur afektif? Rasa-rasanya tidak. Partisipasi melibatkan resonansi batin. Maka, memikirkan simbol yang hidup bisa menjadi jembatan menuju merasakan Yang Ilahi. Persoalan selanjutnya: bukankah pikiran selalu bersifat terbatas dan terstruktur, sementara Yang Ilahi melampaui segala struktur? Di sinilah Tillich memperkenalkan konsep “God above God” Allah di atas Allah teisme. Yang ia maksud adalah realitas Ilahi yang muncul justru ketika segala konsep dan simbol runtuh dalam kegelapan keraguan. Pengalaman ini lebih dekat pada mistisisme apofatik, dimana pikiran mencapai batasnya dan dalam keheningan itulah kehadiran justru terasa. Menariknya, momen runtuhnya pikiran bukanlah kekalahan akal budi, melainkan pemenuhannya yang paradoksal: pikiran yang dengan jujur mengakui ketidakmampuannya menjangkau Allah justru membuka ruang bagi pengalaman akan Dasar yang tak terkatakan. Di sini, memikirkan ketidakmampuan berpikir bisa menjadi jalan menuju perasaan akan Misteri yang melingkupi kita. Apakah itu berarti memikirkan sama dengan merasakan? Mungkin lebih tepat dikatakan bahwa pikiran yang jujur dan rendah hati adalah sebentuk doa, dan doa selalu melibatkan keheningan yang penuh rasa. Sisi mendalam yang lain yang perlu diangkat: bukankah menekankan partisipasi pikiran dalam Yang Ilahi berisiko menuhankan aktivitas mental kita sendiri? Kritik Feuerbach masih relevan: bisa jadi “Allah” yang kita pikirkan itu tidak lain adalah proyeksi esensi manusia yang diagungkan. Tillich berusaha menghindari jebakan ini dengan menegaskan bahwa ultimate concern harus bersifat ultimat, bukan sekadar kepentingan diri yang dibesarkan. Namun, dalam praktiknya, sulit memisahkan antara gerak batin yang otentik menuju Yang Tak Terbatas dengan romantisme spiritual yang hanya memuaskan hasrat psikologis. Diperlukan sikap kritis terus-menerus, semacam “malam gelap jiwa” dalam ranah intelektual, agar pikiran tidak berubah menjadi berhala. Di sinilah ketegangan produktif itu muncul: memikirkan Allah harus selalu dibarengi kesadaran bahwa Allah yang kita pikirkan bukanlah Allah. Paradoks ini, jika dihayati, akan melahirkan kerendahan hati yang mendalam, dan di dalam kerendahan itulah “rasa” akan Kehadiran bisa tumbuh, bukan sebagai objek yang dicengkeram, melainkan sebagai hembusan yang menyapa.

   Kita kembali ke pertanyaan semula dengan kesadaran bahwa jawabannya tak boleh sekadar berdimensi dogmatis. Bisa jadi, dalam pengalaman tertentu, memikirkan Allah secara intens, jujur, dan partisipatif memang menyatu dengan merasakan-Nya. Pikiran bukan lagi tirai, melainkan tabir tipis yang menyalurkan cahaya. Namun dalam banyak situasi lain, pikiran hanyalah pengganti dari perjumpaan yang sesungguhnya, sebuah mekanisme pertahanan agar kita tidak perlu berhadapan dengan ketakterbatasan yang menuntut penyerahan diri total. Tillich menyodorkan jalan alternatif: bukan mencampakkan pikiran, melainkan mentransformasinya menjadi simbol yang hidup, dan bersedia membiarkan simbol itu runtuh ketika ia telah menunaikan tugasnya. Dalam keruntuhan itu, ketika pikiran lelah dan diam, barangkali “merasakan” yang sejati muncul, bukan sebagai emosi yang bisa dinamai, melainkan sebagai keberadaan yang ditopang oleh Dasar yang tak terpikirkan. Maka, memikirkan Allah pada akhirnya adalah undangan untuk melampaui pemikiran itu sendiri, menuju keheningan yang penuh. Apakah di sana pikiran berubah menjadi rasa? Atau justru kita meninggalkan keduanya dan masuk ke dalam cara mengetahui yang lain? Pertanyaan itu sendiri, jika terus kita hidupi tanpa tergesa menjawab, mungkin sudah merupakan sebentuk perjumpaan.

"Kita tidak pernah bisa menangkap Allah dengan pikiran. Kita hanya bisa menunggu, dalam keheningan yang penuh perhatian, sampai pikiran itu sendiri ditangkap, dan disaat itulah ia berubah menjadi rasa."

Komentar

Postingan Populer