Kebebasan yang Aneh
Selama ini, kebebasan dari Tuhan selalu dibahas dengan nada tinggi. Para teolog menyebutnya sebagai anugerah tertinggi. Filsuf menyebutnya sebagai fondasi martabat manusia. Tapi saya curiga: apakah kebebasan itu benar-benar istimewa, atau hanya sesuatu yang kita romantisasi karena tidak punya pilihan?
Coba lihat faktanya. Kebebasan yang Tuhan beri bukanlah kebebasan tanpa batas. Saya bebas memilih mau minum kopi atau teh, tapi saya tidak bebas terbang dengan tangan kosong. Saya bebas memilih teman hidup, tapi saya tidak bebas memilih keluarga tempat saya lahir. Saya bebas memilih untuk percaya atau tidak percaya pada Tuhan, tapi saya tidak bebas memilih konsekuensi dari ketidakpercayaan itu, kalau agama tertentu benar, saya tetap akan dimintai pertanggungjawaban. Jadi kebebasan yang diberikan itu sebenarnya kebebasan bersyarat. Tidak ubahnya seperti orang tua yang memberi anaknya kebebasan memilih baju, tapi dengan catatan: tidak boleh telanjang. Apakah itu kebebasan? Ya. Apakah itu istimewa? Tidak juga.
Dari sisi lain, kebebasan justru menjadi sumber utama penderitaan manusia. Bukan kejahatan, bukan setan, bukan dosa warisan. Tapi kebebasan itu sendiri. Karena dengan kebebasan, manusia memilih untuk serakah. Dengan kebebasan, manusia memilih untuk membunuh. Dengan kebebasan, manusia memilih untuk berbohong. Jika Tuhan tidak memberi kebebasan, tidak akan ada Auschwitz, tidak akan ada perang saudara, tidak akan ada anak yang mati kelaparan karena korupsi. Tapi anehnya, Tuhan tetap memberi kebebasan. Dan kita dipaksa untuk berterima kasih. Saya tidak pernah memesan kebebasan ini. Saya hanya menerimanya seperti menerima hujan saat sedang jalan. Bisa saja saya bilang "terima kasih" tapi di dalam hati saya kesal.
Lalu, dari sisi lain lagi: apakah kebebasan ini benar-benar "dari Tuhan"? Atau jangan-jangan kebebasan adalah properti alamiah dari kesadaran yang tidak bisa dicabut oleh siapa pun, termasuk Tuhan? Jika Tuhan menciptakan makhluk sadar, maka kebebasan adalah efek samping yang tak terhindarkan. Seperti jika Anda membuat api, ia pasti menghasilkan panas. Tuhan tidak "memberi" kebebasan dengan kemurahan hati. Tuhan hanya tidak bisa melakukan sebaliknya tanpa membatalkan ciptaan-Nya sendiri. Itu berarti kebebasan bukan hadiah, melainkan konsekuensi teknis. Dan jika demikian, mengapa kita harus mencintainya? Kita tidak mencintai gravitasi. Kita hanya hidup dengannya.
Tapi di sinilah letak keanehan saya. Meskipun saya bisa berargumen bahwa kebebasan itu biasa, bersyarat, bahkan merepotkan tetapi saya tetap suka dengan apa yang Tuhan beri. Bukan karena alasan teologis yang mulia. Bukan karena saya merasa berutang budi. Tapi karena setelah saya coba bayangkan hidup tanpa kebebasan, saya merasa jijik.
Bayangkan jika Tuhan mengatur setiap langkah saya. Saya bangun pagi bukan karena saya mau, tapi karena Tuhan menggerakkan otot saya. Saya makan nasi bukan karena lapar, tapi karena Tuhan memprogram rasa lapar itu. Saya menulis refleksi ini bukan karena saya berpikir, tapi karena Tuhan sedang mengetik melalui jari saya. Dalam skenario itu, saya tidak ada. Yang ada hanya Tuhan yang berbicara kepada diri-Nya sendiri menggunakan tubuh saya. Itu tidak menarik. Itu bahkan tidak menyeramkan. Itu hanya... hampa. Seperti berbicara dengan dinding.
Jadi meskipun kebebasan itu biasa, saya suka kebebasan itu ada. Saya suka bahwa saya bisa memilih untuk tidak setuju dengan Tuhan. Saya suka bahwa saya bisa menulis kalimat ini tanpa ada yang memaksa. Saya suka bahwa saya bisa salah. Karena dengan bisa salah, saya juga bisa belajar. Dan dengan bisa belajar, saya menjadi sesuatu yang tidak statis.
Dari sisi lain lagi, mungkin ini juga yang Tuhan inginkan. Bukan pujian. Bukan kepatuhan robot. Tapi keberadaan makhluk yang bisa berkata, "Saya tidak sepenuhnya mengerti Engkau, dan saya tidak selalu setuju, tapi saya tetap suka bahwa Engkau menciptakan aku seperti ini." Itu bukan cinta yang dramatis. Itu lebih seperti penerimaan dingin atas fakta. Dan penerimaan dingin, menurut saya, lebih jujur daripada pujian panas yang dibuat-buat.
Akhirnya, refleksi dari sisi lain ini tidak membawa saya pada kesimpulan heroik. Saya hanya menemukan bahwa kebebasan tidak perlu dicintai secara romantis. Cukup disukai secara praktis. Seperti saya suka pisau meskipun bisa melukai. Seperti saya suka hujan meskipun bisa menyebabkan banjir. Saya suka kebebasan dari Tuhan karena alternatifnya, Tuhan yang mengontrol segalanya akan terdengar seperti episode Black Mirror yang tidak ingin saya tonton. Itu saja. Sisanya, saya tidak punya komentar.


Komentar
Posting Komentar