Menari di antara salib merah: mencari kembali panggilan kemanusiaan

"Menari di Antara Salib Merah: Mencari Kembali Panggilan Kemanusiaan"

"Terima kasih Cherry, Jeje, mengajak saya untuk menyaksikan film itu. Saya merasa mereka menjadi penyelamat bagi kekosongan yang saya rasakan. Di mana kalian berada, kalian menjadi bagian yang tak terbendung untuk saya ucapkan terima kasih. Saya baru paham dengan Cherry yang selalu peduli dalam dimensi ekologis. Sekompleks itu rupanya..."
(29 April-1 Mei)
Pendahuluan
Malam ini, lebih tepatnya pada tanggal 29 April 2026, saya diajak oleh seorang kawan saya yang memang pada dasarnya ia sangat cinta dengan unsur-unsur yang berbau ekologis untuk menyaksikan film pendek yang baru saja selesai digarap. Judulnya menarik, Pesta Babi. Saya datang tidak membawa pertanyaan apa- apa tadinya. Saya duduk diantar orang-orang yang sama pedulinya dengan apa yang terjadi di Papua belakangan ini dan tujuan saya hanya sebatas untuk menemani kawan saya ini. Tapi entah mengapa, ketika film itu dimulai, saya mulai menyaksikan pembongkaran kembal terhadap fondasi-fondasi kenyamanan teologis yang selama ini saya tahu dan yang saya coba imani.  Tentu, kamera lambat menyusuri rawa dan hutan di Papua Selatan. Suara buldoser yang menggerus keheningan. Para tetua adat yang berdiri dengan tubuh yang renta, bersandar pada tongkat, menatap sesuatu yang tak bisa saya lihat secara langsung di depan saya. Wajah mereka campuran antara duka dan keteguhan, Saya ingat betul detik-detik seorang perempuan adat menggenggam tanah leluhurnya sambil menangis. Air matanya itu jatuh ke tanah, dan saya merasa sedang menyaksikan sebuah peribadatan yang tak akan pernah bisa dirayakan dalam gedung-gedung gereja kita di kota-kota besar. 
    Babi dalam kosmologi Papua bukan hewan ternak biasa. Ia simbol dari martabat, kelimpahan, penanda relasi yang menyangga seluruh kehidupan yang berdimensi komunal itu sendiri. Namun judul Pesta Babi justru mengundang suatu ironi yang pahit: ini menunjukkan bukan pesta adat, melainkan pesta pora para kapitalis yang melahap habis hutan, tanah, dan masa depan dari masyarakat adat. Film yang saya tonton bersama dua kawan saya adalah jerit yang begitu panjang dan yang menolak untuk dikubur. Rupanya jerit itu sampai pada diri saya, bukan sebagai wacana, melainkan sebagai suatu ajakan. Ajakan yang memaksa saya bertanya: di manakah Tuhan berdiri ketika tanah-Nya dijarah? Di mana wajah Kristus ketika salib-salib justru ditancapkan bukan hanya di altar gereja, melainkan di hutan-hutan yang hendak dimusnahkan oleh para kaum kapitalis yang mengatakan demokrasi adalah sesuatu yang absolut namun dalam realitasnya tidak demikian? Sampai kamar kost, saya mencoba membaca beberapa artikel menyangkut ini semua, dan saya menemukan satu argumen dari seorang tokoh muda dari salah satu sinode di Papua yang menyatakan, bahwa mereka sebenarnya hidup dalam damai, yang membuat tidak nyaman justru dari program-program negara yang tidak membawa dampak positif bagi kehidupan mereka. Pernyataan itu sungguh sederhana, tapi kesederhanaan itulah yang menghantam saya juga. Mungkin di sinilah Teologi Pembebasan yang pernah saya pelajari di kampus mulai mendapatkan tempatnya bukan hanya sebagai satu konsep melainkan menjadi hidup: iman bukan sebagai pelarian, melainkan keberpihakan. Dan Marx, tentu mendapatkan tempatnya juga walau negara ini alergi dengan itu. 

Salib Merah: Ketika Tuhan Menjadi Jalan untuk Melawan Kapitalisme
Apa yang dilakukan oleh masyarakat adat Suku Awyu, Marind, Yei, dan Muyu adalah suatu yang tidak bisa pernah dibayangkan dalam logika kapitalisme: mereka menancapkan salib-salib merah di hutan-hutan adat mereka sendiri. Gerakan yang dimulai pada September 2016 (kalau saya tidak salah) ini bukan tentang upacara keagamaan atau liturgi khusus. Ini adalah tindakan langsung. Ini adalah deklarasi kepada para perampas tanah: "Berhenti. Tanah ini bukan tanah kosong." Saya mencoba menggunakan imajinasi saya dan mulai membayangkan bahwa diri saya berada di sana, di antara pohon-pohon yang akan segera dirobohkan cepat atau lambat, memegang palu dan paku, menancapkan kayu salib yang dicat merah. Tentu saya tidak akan bisa. Ada sesuatu yang hanya bisa lahir dari hubungan intim dengan tanah, hubungan yang tidak lagi saya miliki sebagai orang yang tinggal di perkotaan yang sehari-harinya menginjak aspal dan beton. Tanah bagi masyarakat Papua kebanyakan adalah mama (ibu), yakni merujuk pada rahim kehidupan mereka. Salib merah adalah tangisan dan perlawanan sekaligus. Ia bukan hanya sekadar simbol yang mati. Ia adalah tubuh yang berdiri menantang maut itu sendiri. 
    Hendrikus Woro, pemimpin Marga Woro dari Suku Awyu, suatu kali berkata: "Kami lakukan tanda-tanda seperti itu supaya setiap jengkal tanah diketahui ada penghuninya. Kalau kami biarkan, orang akan anggap tanah ini kosong." Kapitalisme hanya bisa bekerja setelah berhasil mengosongkan, yang dimaksud adalah mengosongkan tanah dari penghuninya, mengosongkan alam dari rohnya, mengosongkan manusia dari relasinya dengan Sang Pencipta. Salib merah adalah jawaban yang berdimensi teologis atas pengosongan itu. Ini adalah sakralisasi perlawanan: iman yang tidak lagi menjadi candu yang membuat orang pasrah, tetapi menjadi api yang menggerakkan tindakan. Tiang salib setinggi dua belas meter menjadikan simbol dari dua belas suku bangsa dan dua belas murid Yesus. Palang tujuh meter menandakan tujuh wilayah adat Tanah Papua. Di sini bisa dilihat bahwa iman Kristen, identitas adat, dan politik perlawanan dapat melebur. Lalu kemudian saya bertanya: Apa yang selama ini kita lakukan pada salib kita? Memakainya? Menjadi hiasan di dinding kamar? sementara itu di Papua, salib menjadi senjata, bukan senjata untuk membunuh, tetapi untuk melindungi kehidupan mereka yang harmonis. 

Salib Bukan Simbol, Ia Perlawanan
Salib di tangan masyarakat Awyu dan Marind adalah palang bagi adat, batas sakral antara kehidupan dan perampasan. Ia ditancapkan di dusun-dusun, di depan gereja-gereja desa, di tanah-tanah yang sudah ditandai oleh korporasi. Tentu, perlawanan semacam ini tidak berpusat di lingkaran elite. Ia tumbuh organik dari marga-marga yang ada, dari kampung-kampung yang ada, dari aliansi antar komunitas yang selama ini diabaikan oleh pusat dari kekuasaan. Saya melihat bahwa bagaimana gerakan semacam ini rentan disalahpahami. Ada yang menganggapnya sekadar gerakan agama Kristen. Yang lain menyebut gerakan ini sebagai takhayul. Pemerintah, tentu saja, mencap gerakan ini sebagai penghalang yang perlu diberantas agar tidak memperhambat investasi. Namun justru di dalam kesalahpahaman itulah kekuatan Salib Merah mengada: ia tidak bisa dikurung dalam satu kategori saja. Ia spiritual, ia politis, ia adat, ia ekologis. Ia adalah iman yang menjadi praksis. Saya membaca tadi, ada seorang aktivis perempuan Papua, Rode Wanimbo, yang menyebut bahwa Salib Merah adalah gerakan yang mempunyai daya keselamatan dan bukan hanya sekadar protes, melainkan panggilan iman untuk melindungi kehidupan, identitas, dan keberlangsungan hidup mereka. 

Bagaimana Wajah Yesus di Papua?
Sejak mempelajari teologi kontekstual di kampus tercinta, saya cukup sering ketika diperhadapkan oleh konteks seperti ini dihantui oleh pertanyaan: Jika Yesus lahir dalam konteks tertentu, dalam konteks ini adalah Papua, seperti apa wajah-Nya? Apakah Ia akan memakai jubah putih seperti di lukisan-lukisan yang bergaya Eropa? Ataukah Ia akan berjalan tanpa alas kaki di antara pohon-pohon sagu yang ditebang? Saya menemukan jawaban yang cukup meresahkan dari kajian para teolog Papua itu sendiri. Ada yang menggagas Kristologi "Yesus Koteka", yakni tentang bagaimana Yesus mengenakan koteka, yang masuk ke dalam kebudayaan Pegunungan Papua, yang bersolidaritas dengan mereka yang dinilai oleh masyarakat kebanyakan sebagai rendah. Ini bukan sekadar eksperimen yang berdimensi estetika saja. Melainkan ini adalah deklarasi bahwa keselamatan harus berinkarnasi dalam konteks yang konkret. Dan konteks Papua saat ini adalah konteks penjajahan: tanah yang dirampas, hutan yang dibabat, rakyat yang dikepung oleh pasukan militer. Saya sendiri mengakui, seringkali saya terjebak dalam Kristologi yang steril, dimana Kristus kosmis dipandang sebagai sesuatu yang jauh, Juruselamat pribadi yang hanya mengurusi dosa-dosa saya. Kristologi Papua rupanya hadir untuk membangunkan saya: Yesus adalah Saudara Tertua, Dia yang berjalan bersama mereka yang tertindas, Dia yang tubuh-Nya tersalib bersama tanah yang dijarah. Saya tidak bisa lagi membaca kisah sengsara Yesus tanpa teringat pada hutan-hutan Papua yang disalibkan oleh buldoser. Saya tidak bisa lagi memandang mahkota duri tanpa memikirkan kawat-kawat pagar yang memagari tanah adat yang kini sudah bersertifikat HGU di Jakarta. 

Kapitalisme: Apakah Tuhan Ada dalam Hektaran Tanah?
Saya cukup terusik oleh pertanyaan saya yang cukup nyeleneh; Apakah Tuhan bisa ditemukan dalam kontrak-kontrak investasi itu? Apakah Tuhan bersemedi di atas cetak biru HGU yang ditandatangani di ruang-ruang rapat perusahaan? Bagi saya, pertanyaan nyeleneh seperti itu bukan cuma sebagai satir. Ia adalah pertanyaan yang bisa membawa saya berpikir sampai pada mimpi. Ketika saya melihat dan membaca angka-angka deforestasi, hutan Papua yang menyusut, ratusan ribu hektar dalam dua dekade, naik dari tahun ke tahun, dan saya tidak melihat statistik. Saya melihat tubuh-tubuh yang terusir paksa dari rahim kehidupannya. Saya melihat ibu-ibu tidak bisa lagi memanen sagu. Saya melihat anak-anakn yang tidak lagi mengenal jalan setapak yang diwariskan leluhur mereka. Kapitalisme, yang oleh Marx sebut sebagai gerakan metabolis antara manusia dan bumi, bukan sekadar teori di luar sana saja. Ia adalah buldoser yang sedang menyala di hutan Boven Digoel saat ini juga. Tentu, masyarakat Papua memiliki jawabannya sendiri: tanah adalah mama. Merampas tanah berarti membunuh ibu. Secara teologis, merampas tanah berarti mengusir Tuhan dari tanah itu sendiri. Kapitalisme menciptakan apa yang saya temukan sebagai ateisme struktural, yakni sistem di mana Tuhan tidak punya lagi tempat, karena segalanya telah diubah menjadi nilai tukar. Pohon sagu dinilai berdasarkan harga jualnya. Sungai dinilai dari potensi irigasinya. Manusia dinilai dari apakah ia mendukung atau menghambat investasi yang sedang berlangsung tanpa persetujuan. Di hadapan semua itu, Salib Merah adalah teriakan yang memanggil Tuhan untuk kembali: "Kembalilah, Tuhan. Tanah-Mu sedang dijarah." 

Ketika Kekuasaan Mengakhiri Kemanusiaan
Tadi saya membaca beberapa berita yang membuat saya kembali terdiam sejenak dan mulai berpikir. Tentang operasi militer di distrik Kembru, kabupaten Puncak. Tentang warga sipil, termasuk anak-anak yang sedikit-banyak menjadi korban. Tentang pengungsian yang jumlahnya lebih dari seratus ribu jiwa. Kemudian di antara berita itu, saya mulai bertanya: untuk apa sebenarnya semua ini? Untuk mengamankan tambang, kah? Untuk membuka lahan bagi perkebunan, kah? Apakah pembangunan harus selalu berjalan di atas tumpukan mayat? Tentu, saya tidak bisa menerima begitu saja jawaban-jawaban yang menempatkan keamanan investasi di atas kemanusiaan. Komnas HAM mengecam, menteri meminta penghentian operasi, tapi di sisi yang lain kekerasan masih tetap berlangsung. Saya teringat dengan satu istilah yang diucapkan oleh seorang aktivis Papua: "genosida dan ekosida." Dua kata yang berat itu, dua kata yang membuat saya rasa ini bukan tentang permasalahan yang sepele.  Tentu, perkataan dari aktivis Papua itu bukan sebagai tuduhan kosong. Ini adalah terjemahan dari apa yang terjadi ketika negara menjadi pelayan modal: tubuh manusia harus disingkirkan, hutan harus di papas habis, agar investasi bisa berjalan tanpa adanya hambatan di luar perusahaan. 
    Yang lebih mengerikan daripada itu semua adalah pembungkaman yang terjadi. Film Pesta Babi yang saya tonton dengan kedua rekan saya mendapatkan beberapa tekanan dari pihak luar. Film itu dituduh sebagai tidak sejalan dengan semangat membangun Papua. Dituduh mengganggu keharmonisan sosial yang ingin dicipta. Padahal yang sesungguhnya terganggu bukanlah keharmonisan, melainkan kenyamanan para perampas. Media dan kekuasaan bekerja sama untuk membungkam suara-suara yang mengancam kepentingan dari elite, sebuah pelajaran yang sudah lama saya pahami, tapi baru benar-benar saya rasakan sengatnya malam itu. Korban pertama dari operasi militer bukan hanya mereka yang tewas. Tapi juga solidaritas. Juga kemungkinan masa depan bersama. Anak-anak yang tumbuh di pengungsian, perempuan yang menyaksikan suaminya ditangkap tanpa adanya proses hukum, komunitas yang kehilangan kemampuan untuk merawat hutan mereka. Semua itu adalah luka yang akan terus menganga, dan saya, yang duduk aman di ruang ini, sama biadabnya jika pura-pura tidak tahu. 

Teologi Pembebasan: Membebaskan Bumi dari Tikaman Wacana Gila
Teologi Pembebasan, sebagaimana Gustavo Gutierrez menerangkannya, selalu berpijak pada praksis historis, pada kenyataan berdimensi konkret yang dialami oleh kaum yang termarjinalkan dan yang tertindas. Di Papua, kenyataan semacam itu berbau pekat dalam hutan yang terbakar, sungai yang tercemar, dan masyarakat yang hidup di bawah ancaman. Ketika saya membaca kembali Gutierrez, saya mendapatkan imajinasi saya yang terbang menjauh dan membayangkan bahwa teks-teks itu sedang ditulis di atas tanah-tanah yang akan segera ditanami oleh sawit. Saya menyebut wacana pembangunan resmi ini sebagai "wacana gila." Narasi yang menyebut perampasan tanah sebagai proyek strategis nasional.  Narasi yang menyebut perlawanan sebagai separatisme. Narasi yang bahkan sampai menyebut petani sebagai hama yang harus disingkirkan. Pernah suatu kali, seorang kepala distrik berkata dengan nada yang getir menandakan putus asa: "Kami dinilai sebagai hama, padahal kami manusia yang punya akal budi." Merinding sekali saya membaca satu kalimat itu. Kapitalisme dalam terang ini telah berhasil menciptakan pembalikan total: manusia yang merawat tanah dianggap sebagai hama, sementara korporasi yang menghancurkannya dianggap sebagai pahlawan pembangunan. Ini bukan cuma sekadar ironi. Ini adalah bentuk paling mutakhir dari dosa struktural.
    Teologi Pembebasan yang berhorizon tanah Papua memang belum terbangun secara sistematis sebagai alirannya sendiri. Tapi bukankah Salib Merah adalah teologi pembebasan yang hidup? Ia tidak menunggu dirumuskan di ruang-ruang akademis. Ia lahir dari rahim penderitaan. Ia diwujudkan dalam satu tindakan yang konkret: menancapkan salib, berdiri di depan buldoser, berdoa di tanah leluhur sambil menangis. Dan yang membuat saya terpukau, teologi semacam ini bukan hanya ingin membebaskan manusia dari penindasan saja. Ia juga ingin membebaskan bumi dari perusakan. Ini dimensi yang kadang terabaikan dalam teologi pembebasan yang dimiliki oleh Amerika Latin, dan di Papua, dimensi ekologis ini menjadi jantung bagi kehidupan. Ketika Hendrikus Woro berkata bahwa salib merah adalah simbol kemenangan atas maut, ia tidak berbicara tentang maut yang berdimensi abstrak. Ia berbicara tentang maut yang dibawa oleh buldoser. Tentang maut yang dibawa oleh tambang. Tentang maut yang dibawa oleh kekuasaan yang tidak mengenal belas kasih. Teologi Pembebasan Papua adalah teologi yang menolak maut dalam segala bentuknya dan menegaskan kehidupan dalam kepenuhannya.

Siapa yang Tercerahkan: Mereka yang Menjaga, atau Kita yang Mementingkan Kolongmerat?
Saya harus jujur dari sini: sejak menonton film itu, di motor menuju pulang ke kost, ada satu pertanyaan yang terus bersemayam. Siapa sebenarnya yang tercerahkan dalam posisi seperti ini? Kita yang tinggal di kota, yang mengaku terdidik, yang gemar membaca buku-buku tebal? Atau justru mereka, yang bertelanjang kaki di hutan Papua, menancapkan salib di tanah leluhur, dan berkata kepada buldoser: "Cukup. Sampai di sini"? Kolongmerat adalah istilah yang saya pinjam untuk menggambarkan cara hidup kapitalistik; ruang-ruang gelap akumulasi, tabungan, investasi, spekulasi. Kapitalisme telah mengajarkan kita untuk mencintai kolongmerat, untuk mengukur segalanya dari laba, untuk menimbun sebanyak-banyaknya, untuk membangun kuil indah kapitalisme di atas penderitaan orang lain. Sementara itu, masyarakat adat di Papua mengajarkan sesuatu yang sangat berbeda: mencintai tanah, sungai, hutan, dan relasi. Ini bukan tentang romantisasi yang naif. Saya sadar betul akan kelemahan romantisasi semacam itu. Tapi saya juga tidak bisa menutup mata pada realitas bahwa ada kebijaksanaan yang telah lama dihancurkan oleh kapitalisme, yakni kebijaksanaan yang memahami bahwa manusia bukan tuan atas alam, melainkan bagian dari dirinya. Filsafat Pembebasan berbicara mengenai "yang lain", yakni mereka yang disingkirkan oleh modernitas, yang dianggap tidak memiliki nilai yang relevan, yang suaranya terus-menerus dibungkam. Masyarakat adat Papua adalah "yang lain" itu. Namun dalam kenyataan, justru mereka pula yang mempraktikkan apa yang disebut oleh para kaum intelek sebagai "etika bumi", yakni etika yang menempatkan kesejahteraan seluruh komunitas kehidupan di atas kepentingan individu dan akumulasi kapital. Ketika saya di kota sibuk menghitung jejak karbon dam membeli produk ramah lingkungan yang diproduksi oleh korporasi yang sama dengan yang merusak hutan, mereka di Papua mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan hutan. Siapa yang lebih sadar ekologis di sini? Siapa yang lebih tercerahkan di sini? Saya tidak berani menjawab, tapi pertanyaan itu sendiri sudah cukup untuk membalikkan perspektif saya.
    Leo Tolstoy pernah sekali menulis bahwa Kerajaan Allah ada di dalam dirimu, bukan di gedung-gedung gereja, buka di ritual-ritual kosong, melainkan di hati yang bergerak oleh belas kasih. Tentu saya akan melihat kerajaan Allah itu ada di rawa-rawa Boven Digoel, diantara pohon-pohon sagu yang akan ditebang, di tangan-tangan yang menancapkan salib merah dengan air mata berlumuran lumpur. Bukan saya, bukan kita yang tinggal di kota, yang telah tercerahkan. Merekalah yang telah mencapai pencerahan yang lebih unggul ketimbang kita: bahwa tanah, kehidupan. dan Tuhan adalah satu. Dan bahwa mempertahankan tanah adalah mempertahankan Tuhan itu sendiri. Maka, ceramah dan doa mungkin bisa diulang setiap hari tanpa mengubah apa pun. Tapi salib merah, sekali ditancapkan, ia mampu mengubah segalanya, bukan karena kekuatannya sendiri, tapi karena ia adalah tanda dari komitmen total untuk mempertahankan kehidupan itu sendiri. 

Tuhan Hadir dalam Ancaman Militer dan Kekuasaan
Saya ingin jujur sedikit: ketika membaca berita tentang operasi militer di distrik Kembru, saya sempat bertanya, di mana Tuhan? Di mana Tuhan ketika peluru ditembakkan ke arah warga sipil disana? Di mana Tuhan ketika helikopter-helikopter militer terbang rendah di atas kampung-kampung yang ketakutan? Pertanyaan ini mengguncang iman saya sendiri. Tapi justru di sinilah Salib Merah berbicara paling lantang: Tuhan tidak berada di istana kekuasaan. Tuhan tidak berada di ruang rapat korporasi. Ia hadir bersama mereka yang tanahnya dirampas, bersama mereka yang hidupnya terancam. Saya teringat kembali pada dasar Teologi Pembebasan: Allah memiliki keberpihakan istimewa kepada kaum yang termarjinalkan, bukan karena mereka lebih suci, melainkan karena ketidakadilan yang mereka alami adalah penghinaan terhadap kehendak-Nya sendiri. Yesus sendiri berkata bahwa apa yang kita lakukan untuk saudara-Nya yang paling hina, kita lakukan juga untuk Dia. Jika saya percaya itu (dan memang saya percaya) maka apa yang dilakukan di Papua adalah apa yang dilakukan juga terhadap Kristus itu sendiri. Setiap peluru yang ditembakkan ke tubuh warga sipil adalah peluru yang ditembakkan ke tubuh Kristus. Setiap hektar hutan yang diratakan adalah mahkota duri yang dipaksakan ke kepala Kristus. Ini bukan sekadar metafora belaka. Ini pembacaan teologis yang serius dan yang bisa saya buat. Ketika Hendrikus Woro dan komunitasnya menancapkan salib merah, mereka menyatakan tanah itu sebagai tubuh Kristus. Hutan itu sebagai darah Kristus. Dan karenanya, merusak tanah dan hutan adalah menyalibkan Kristus untuk kedua kalinya yang dilakukan oleh modernitas. Kemudian saya sedar: Tuhan hadir bukan sebagai pembela para penindas, melainkan sebagai kekuatan bagi yang ditindas. Salib bukanlah dari akhir. Ia adalah awal dari kebangkitan. 'Kami akan terus menancap salib sampai dunia ini kiamat," kata Hendrikus Woro. Saya membaca kalimat itu, dan saya tidak menemukan ancaman di dalamnya. Saya menemukan pengakuan iman yang lebih segar dari perkataan itu. 

Penghindaran Berhala-Berhala yang Menyamar Menjadi Sesuatu yang Baik
Di tengah semua ini, saya belajar satu hal yang paling mengusik: berhala tidak selalu muncul dalam rupa yang buruk. Justru yang paling berbahaya adalah yang menyamar sebagai satu kebaikan. Pembangunan. Kemajuan. Stabilitas. Siapa yang berani menolak kata-kata itu? Tapi ketika kata-kata ini dijadikan satu alasan untuk merampas tanah dan membungkam perlawanan, saya sadar bahwa ia bukan lagi kata-kata baik. Ia telah menjadi berhala. Yang lebih mengerikan adalah bagaimana berhala-berhala ini bisa menyusup ke dalam teologi kita sendiri. Berapa banyak doa yang diucapkan untuk memberkati "pembangunan" tanpa bertanya: pembangunan untuk siapa? Berapa banyak perkataan "damai" tanpa bertanya: damai dengan harga apa? Saya mengakuinya dengan malu; kadang saya sendiri begitu mudah menyebut "ketertiban," tanpa sadar bahwa kata itu bisa menjadi senjata bagi para penindas. Salib Merah di Papua mengajarkan saya sesuatu yang lain. Di sana, salib tidak disalahgunakan untuk memberkati perampasan. Inilah spiritualitas yang ikonoklastik: ia menghancurkan berhala-berhala, bahkan yang paling halus sekalipun. Ia selalu bertanya: di pihak mana engkau sungguh hadir? di mana tubuh yang menderita? Maka ingat, berhala-berhala modern tidak meminta kita menyembah patung. Mereka hanya meminta kita untuk diam. Menerima. Tidak bertanya. Dan justru disana bahayanya. Diam di hadapan ketidakadilan adalah bentuk penyembahan berhala yang paling licik. Penghindaran berhala berarti terus-menerus menginterogasi diri; apa yang sebenarnya saya sembah? Apakah iman saya melawan maut, atau justru memberkatinya dengan dalih kebaikan?

Refleksi Akhir: Menari Bersama Ratu Adil
Ratu adil adalah mitos yang hidup dalam banyak kebudayaan Nusantara, termasuk di Papua. Sosok yang diyakini akan datang untuk memulihkan keseimbangan , meluruskan kembali tatanan yang rusak. Dalam tradisi Kristen, Ratu Adil ini adalah Kristus itu sendiri yag datang dalam kemuliaan. Tapi Salib Merah mengajarkan saya sesuatu yang berbeda: Ratu Adil bukan sosok yang ditunggu. Ratu Adil adalah mereka yang menancapkan salib di tanah. Mereka yang menolak menyerahkan hutan kepada korporasi. Mereka yang mempertaruhkan nyawa demi kehidupan. Ratu Adil adalah Hendrikus Woro dan Simon Petrus Balagaize yang memimpin komunitas mereka. Adalah para perempuan Papua yang menangis di depan buldoser. Adalah setiap orang yang menolak logika kapital dan memilih logika kehidupan. Saya membayangkan sebuah tarian di antara salib-salib merah itu. Tarian yang ditarikan oleh mereka yang telah kehilangan segalanya tapi tidak dengan harapan mereka. Tarian oleh bumi itu sendiri, yang meskipun terluka, tetap menumbuhkan tunas-tunas baru. Eskatologi bukan sebuah pelarian dari sejarah. Eskatologi adalah dorongan untuk terlibat dalam sejarah. Kerajaan Allah sudah dimulai di sini, di tanah-tanah yang dipertahankan, di salib-salib yang ditancapkan. Belum sepenuhnya, ya, karena buldoser masih terus menderu. Tapi sudah mulai. Dan tarian itu adalah tarian eskatologis. Saya diundang untuk menari bersama mereka. Lebih tepatnya, saya diundang untuk belajar menari dari mereka. 

Penutup
Teologi Pembebasan mengajarkan bahwa doa bukan pengganti dari tindakan. Tapi doa juga bukan sesuatu yang terpisah dari tindakan. Doa sejati adalah doa yang menjadi tindakan. Salib Merah adalah doa yang menjadikan tindakan yang dimaksud. Ia adalah teriakan yang diwujudkan dalam kayu dan paku. Ia adalah pemohonan perlindungan yang diwujudkan dalam keberanian berdiri di depan buldoser. Bagi saya sekarang, solidaritas bukan sebagai suatu pilihan. Ia adalah kewajiban, lahir dari pengakuan bahwa kita bagian dari tubuh yang sama. Bahwa penderitaan satu anggota adalah penderitaan semua anggota. Solidaritas bisa mengambil banyak bentuk: advokasi, tekanan politik, penggalangan dana, doa yang sungguh. Tapi apa pun bentuknya, solidaritas harus berakar pada kerendahan hati: untuk mendengarkan, bukan menggurui. Untuk belajar, dan bukan mengajari. Salib merah itu berwarna dara karena diresapi oleh penderitaan. Tapi ia juga berwarna fajar karena menunjuk pada kebangkitan. Tugas kita adalah memastikan fajar itu benar-benar tiba. Bahwa salib-salib merah itu tidak hanya menjadi satu monumen perlawanan yang akan kalah dan mati, melainkan fondasi kehidupan yang segar dan baru. Bahwa tanah Papua, dan seluruh bumi, dapat bernafas kembali, bebas dari tikaman wacana gila, bebas dari perampokan kapitalis, bebas dari kekuasaan yang mengakhiri kemanusiaan. 


"Saya datang hanya ingin menonton. Tapi salib-salib merah itu menatap saya balik, dan mulai bertanya: di pihak mana engkau berdiri? Sejak malam itu, saya tidak bisa lagi menyebut diri sebagai penonton."

Komentar

Postingan Populer