Paskah: siapa yang dipulihkan?

Setiap Paskah, kita mendengar khotbah tentang kemenangan atas maut, tentang terang yang mengalahkan gelap, tentang hidup yang tidak lagi dikuasai kubur. Tapi saya selalu terganggu oleh satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dengan tuntas: kebangkitan itu memulihkan siapa sebenarnya? Jemaat di gereja akan menjawab: "kita, orang percaya." Tapi jawaban itu terasa seperti pagar yang sengaja dipasang untuk membatasi siapa yang boleh masuk dan siapa yang tidak. Dan saya tidak yakin bahwa kebangkitan pernah bermaksud membuat pagar.

Coba kita jujur. Selama ini kita diajari bahwa kebangkitan adalah hadiah bagi mereka yang beriman dengan benar, yang mengaku Yesus sebagai Tuhan, yang hidup dalam kekudusan. Implikasinya halus tetapi kejam: mereka yang tidak percaya, mereka yang tidak sempat percaya, mereka yang imannya hancur karena penderitaan—mereka tidak termasuk. Kebangkitan menjadi semacam reward bagi anggota klub yang memenuhi syarat. Dan di situlah letak pengkhianatan paling halus terhadap kabar kebangkitan itu sendiri. Karena jika kebangkitan hanya untuk orang percaya, maka ia tidak lebih dari sekadar keadilan kompensatif: yang baik mendapat hadiah, yang jahat mendapat hukuman. Tapi apakah itu Injil? Ataukah itu hanya proyeksi dari naluri manusiawi kita untuk menghakimi?

Saya bertanya lagi: kebangkitan memulihkan siapa? Mari kita lihat siapa yang pertama kali melihat kubur kosong. Perempuan-perempuan yang tidak dipercaya kesaksiannya. Murid yang meragukan. Petrus yang menyangkal. Tomas yang tidak melihat lalu tidak percaya. Kebangkitan tidak memilih yang sempurna. Ia memilih yang patah, yang bimbang, yang bahkan lari ketika Yesus ditangkap. Ini mencurigakan. Seolah-olah kebangkitan sengaja menghindari mereka yang merasa layak dan justru mencari mereka yang sadar bahwa mereka tidak layak.

Maka saya mulai berpikir: mungkin kebangkitan memulihkan mereka yang tidak pernah merasa dipulihkan. Bukan orang-orang kudus yang yakin akan keselamatannya, tetapi mereka yang hidup dalam keraguan yang terus-menerus. Mereka yang setiap hari bertanya apakah hidup ini berarti. Mereka yang doanya hanya bisik-bisik takut tidak didengar. Kebangkitan adalah untuk mereka yang tidak berani berharap. Karena jika harapan hanya untuk yang kuat, itu bukan kabar baik—itu seleksi alam.

Tetapi ada lapisan yang lebih sulit. Kebangkitan memulihkan pelaku kejahatan. Saya tahu ini terdengar menghujat. Tapi coba renungkan: jika kebangkitan adalah kemenangan atas kuasa maut, maka ia juga kemenangan atas kuasa dosa (sebenarnya saya tidak "suka" menggunakan kata dosa. Tapi, karena waktu, yasudahlah) yang memisahkan. Dan dosa tidak pandang bulu. Pelaku pelecehan, pembunuh, penindas—mereka juga dipisahkan oleh dosa, juga dikuasai oleh maut. Apakah kebangkitan menutup pintu bagi mereka? Jika ya, maka kebangkitan bukanlah anugerah, melainkan hukuman yang tertunda. Tapi jika tidak, maka kita harus berhadapan dengan kemungkinan yang mengerikan: bahwa di meja perjamuan kebangkitan, duduk bersama adalah korban dan pelaku. Bukan karena pelaku tidak perlu bertanggung jawab, tetapi karena kebangkitan tidak bekerja dengan logika pembalasan. Ia bekerja dengan logika penciptaan baru—di mana masa lalu tidak dihapus tetapi ditebus, di mana luka tidak dilupakan tetapi dipulihkan dengan cara yang tidak lagi melukai.

Ini bukan pembenaran atas kejahatan. Ini adalah pengakuan bahwa keadilan yang hanya membalas tidak pernah cukup untuk memulihkan apa pun. Ia hanya menghentikan sementara. Kebangkitan menawarkan sesuatu yang lebih mustahil: bahwa pelaku sekalipun bisa berubah, bahwa ia bisa menangisi kejahatannya, bahwa ia bisa menjadi sesuatu yang baru tanpa menghapus fakta bahwa ia pernah jahat. Apakah ini adil bagi korban? Tidak. Tidak ada keadilan yang cukup untuk korban. Tapi kebangkitan tidak pernah berjanji tentang keadilan. Ia berjanji tentang pemulihan. Dan pemulihan, dalam pengalaman saya, sering dimulai ketika kita berhenti menuntut agar semuanya setimpal.

Kebangkitan juga memulihkan mereka yang tidak percaya pada kebangkitan. Ini yang paling paradoks. Karena jika kebangkitan benar-benar terjadi, ia tidak membutuhkan iman saya untuk menjadi nyata. Ia nyata atau tidak nyata terlepas dari apa yang saya yakini. Dan jika ia nyata, maka konsekuensinya melampaui batas-batas iman. Hujan turun pada orang benar dan orang tidak benar. Kebangkitan, jika ia adalah peristiwa kosmik, juga demikian. Ia memulihkan bahkan mereka yang menertawakannya. Bukan karena mereka layak, tetapi karena pemulihan bukan soal kelayakan.

Maka pada Paskah ini, saya berhenti bertanya siapa yang dipulihkan. Saya hanya tahu bahwa jika kebangkitan itu benar, maka tidak ada seorang pun yang terbuang. Tidak ada luka yang terlalu dalam, tidak ada dosa yang terlalu berat, tidak ada keraguan yang terlalu besar untuk tidak bisa dijamah oleh Dia yang telah keluar dari kubur. Dan jika itu benar, maka satu-satukan respons yang masuk akal bukanlah mengecek apakah saya termasuk, tetapi ikut memulihkan—tanpa bertanya dulu siapa yang layak.

Komentar

Postingan Populer