Rinduku adalah mencintai nasib
(Untuk Omah, entah dimana)
Aneh. Sungguh aneh. Di sela larut yang lengket seperti empedu yang tertahan, aku mendapati amor fati, cinta pada takdir, makhluk aneh setengah doa setengah kutukan, tiba-tiba bersila di dada kiriku, tepat di ruang yang dulu kusiapkan hanya untuk namamu. Bagaimana dia bisa masuk? Rindu adalah peta buta, takdir adalah garis yang sudah digambar. Tapi lihatlah, amor fati malah merajalela. Dia seperti ibu mertua yang tak diundang: membenahi letak sendal, memindahkan gelas, lalu bilang bahwa semua ini sudah diatur sejak awal. Aku mulai curiga: mungkin sejak awal, rindu ini tak pernah liar. Mungkin sejak awal, ia sudah dijinakkan oleh sesuatu yang lebih tua dari rasa: keyakinan bahwa segala yang terjadi, termasuk kepergianmu adalah sesuatu yang layak dicintai. Gila. Benar-benar gila. Amor fati itu konsep kejam yang dipakaikan baju indah. Katanya, cintai takdirmu. Katanya, jangan hanya terima, tapi rayakan. Tapi mana mungkin aku merayakan fakta bahwa kamu kini hanya tinggal nama di ponsel yang tak pernah kutelepon?
Dan sekarang dia ikut campur dalam segala hal yang menyangkut aku dan kamu. Kau tahu, amor fati itu pengacau yang paling halus. Ketika aku sedang asyik meratapi betapa salahnya waktu kita dulu. salah tempat, salah usia, salah keberanian, lalu dia membisikkan: "Tapi tidak ada yang salah. Semua sudah tepat. Dan kau harus mencintai ketepatan itu." Mau tak mau aku terdiam. Maksudnya, aku harus mencintai bahwa kita bertemu lalu buyar? Bahwa aku masih menggenggam serpihanmu seperti orang karam menggenggam papan? Ya. Katanya begitu. Mencintai takdir berarti mencintai keseluruhan dari luka, goresan. Itu kedengaran seperti siksaan yang dibungkus puisi.
Tapi makin kuruntut, makin aku sadar: amor fati yang merajalela di rinduku ini bukan memaksaku bahagia. Dia hanya memaksaku jujur. Bahwa aku tidak bisa memilih bagian-bagian mana dari takdir yang kucintai. Aku tidak bisa bilang: "Aku suka pertemuan kita, tapi tolong hapus perpisahannya." Atau: "Aku rindu senyummu, tapi tolong buang rasa pahitnya." Amor fati mengajarkan satu hal yang brutal: takdir itu seperti tubuh. Kau tak bisa memotong tangan karena tidak suka bentuk kukunya. Kau cinta utuh, atau tidak sama sekali. Maka rindu ini, yang tadinya kupikir derita, tiba-tiba berubah bentuk. Ia menjadi semacam persetujuan. Setiap kali jantungku berdegup kencang mengingat caramu mengetik pesan dengan satu jari, amor fati berkata: "Itu terjadi. Tak bisa diulang, tak bisa dibatalkan. Dan karena tak bisa, mengapa tidak kau peluk?" Bukan pelukan sayang. Pelukan pasrah yang berani. Seperti memeluk duri.
Dan anehnya, ketika aku berhenti melawan takdir, ketika aku berhenti berandai-andai "seandainya dulu aku bilang jangan pergi", rinduku justru menjadi tidak sekoyak dulu. Ia menjadi lebih padat. Seperti air yang berubah jadi es. Tetap dingin, tetap basah, tapi tak tumpah-tumpah lagi. Amor fati mengajarkanku bahwa melawan takdir hanya menghasilkan rindu yang histeris. Sedangkan menerima takdir menghasilkan rindu yang tenang. Tenang yang mengerikan, karena di dalamnya tak ada lagi harapan palsu bahwa kamu akan kembali. Kamu tidak akan kembali. Itu takdir. Dan aku, dengan segala kebodohanku, sedang belajar mencintai ketidakkembalianmu.
Sekarang, setiap kali rindu itu datang, biasanya saat hujan atau saat aku selesai membaca terlalu lama, amor fati langsung mengambil alih panggung. Dia bilang, "Jangan tangisi sesuatu yang sudah selesai. Bersyukurlah ia selesai." Aku protes, tentu saja. Mana mungkin bersyukur kehilangan? Tapi dia balik bertanya: "Apakah kau lebih suka tak pernah mengenalnya sama sekali?" Aku diam. Karena jawabannya tidak. Aku lebih suka sakit karena kehilangan daripada mati rasa karena tak pernah merasa. Maka itu takdir yang baik. Maka itu layak dicintai. Lihatlah betapa liciknya amor fati. Dia tidak membuatku lupa padamu. Dia hanya mengubah posisimu dalam peta jiwaku. Dulu kau adalah tujuan. Sekarang kau adalah jalan yang pernah kulalui. Dan amor fati bilang: jalan itu indah justru karena sudah selesai. Tak perlu kembali. Tak perlu diulang. Cukup dikenang sebagai bagian dari takdir yang kuterima seutuhnya.
Tapi jangan salah. Aku masih marah. Masih ada malam-malam di mana aku membenci betapa singkatnya kita. Di situlah amor fati bekerja paling keras. Dia tidak melarangku marah. Dia hanya mengingatkan: kemarahanmu juga bagian dari takdir. Maka marahlah, tapi cintailah kemarahan itu. Sebab ia membuktikan bahwa kamu tidak abai, tidak beku. Ia membuktikan bahwa kamu masih hidup. Aneh. Sungguh aneh. Konsep sialan ini. Yang bunyinya seperti motivasi murahan di kartu ucapan, ternyata memiliki kekuatan yang nyata. Amor fati merajalela dalam rinduku seperti api di padang ilalang. Ia membakar semua "seandainya" dan "seharusnya". Yang tersisa hanya: "ini terjadi, dan aku memilih untuk mencintainya."
Jadi, untukmu yang entah di mana sekarang: rinduku padamu kini telah menjadi medan latihan amor fati. Setiap hari aku belajar mengatakan ya pada takdir yang mempertemukan dan memisahkan kita. Aku belum mahir. Masih sering menangis. Tapi setidaknya aku tidak lagi membenci langit yang mengatur segalanya. Dan amor fati, makhluk aneh itu, tersenyum dari sudut kamar. Dia tahu aku belum sepenuhnya tunduk. Tapi dia juga tahu, untuk kali pertama, aku berhenti melawan. Dan dalam keheningan itu, rindu ini terasa seperti doa yang tidak perlu dijawab. Cukup didengar. Cukup dihayati. Cukup dicintai karena ia memang sudah menjadi takdirku.
Sekarang biarkan amor fati duduk manis di samping gelas kopiku yang dingin. Aku akan mengingatmu tanpa paksaan untuk melupakan atau kembali. Aku akan merindukanmu dengan cara yang paling jujur: sebagai bagian dari takdir yang tak akan kuminta maaf atas keberaniannya untuk terjadi.


Komentar
Posting Komentar