Sekilas terakit Pelecehan Seksual
Saya terusik. Bukan oleh satu kasus tertentu, bukan oleh satu nama yang viral, melainkan oleh sesuatu yang lebih mendasar, sesuatu yang berdenyut di balik hingar bingar narasi yang hari ini begitu dominan. Ada suara di kepala saya yang tak mau diam, yang terus bertanya: sudahkah kita sungguh-sungguh berpikir, atau justru kita sedang berlomba-lomba menempatkan diri di sisi yang paling aman secara moral? Saya tidak sedang mencari pembenaran untuk membela pelaku pelecehan seksual. Sama sekali bukan itu. Tetapi saya merasa risi ketika setiap kali isu ini mencuat, yang tersedia hanyalah dua posisi ekstrem: bela korban sepenuhnya tanpa boleh bertanya, atau berarti Anda berpihak pada pemerkosa. Seolah tidak ada ruang ketiga untuk sekadar berpikir lebih dalam. Saya ingin mengisi ruang itu, bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk memahami.
Kegelisahan saya bermula dari pertanyaan sederhana: apakah korban benar-benar korban? Saya tahu persis bagaimana pertanyaan ini akan dibaca. Ia akan dicurigai. Ia akan dianggap sebagai upaya halus untuk menyalahkan korban, sebagai sisa-sisa patriarki yang masih bercokol di kepala saya. Tapi saya tidak bisa berpura-pura bahwa pertanyaan ini tidak penting. Saya telah menyaksikan bagaimana narasi "bela korban" kadang berubah menjadi semacam dogma yang menolak untuk diganggu gugat. Kita disuruh percaya begitu saja, dan jika kita bertanya lebih jauh, kita dicap sebagai bagian dari masalah. Padahal bukankah setiap tuduhan, seberat apa pun, layak untuk diuji? Bukankah keadilan justru lahir dari keberanian untuk mempertanyakan, bukan dari ketergesaan untuk percaya? Saya tidak mengatakan bahwa korban pasti berbohong. Saya hanya mengatakan bahwa kita butuh lebih dari sekadar klaim untuk sampai pada kebenaran. Kritisisme adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap keadilan, bukan pengkhianatannya.
Lalu saya memikirkan argumen tentang "jalan terbuka". Beberapa orang mungkin akan segera menuduh saya menyalahkan pakaian atau perilaku korban. Tunggu dulu. Saya hanya ingin jujur tentang hakikat nafsu manusia. Siapa di antara kita yang bisa mengaku suci sepenuhnya dari nafsu melihat apa yang seharusnya tidak kita lihat? Siapa yang tidak pernah tergoda oleh pemandangan yang merangsang, oleh gestur yang mengundang, oleh keindahan yang menyengat indra? Saya tidak sedang menjustifikasi tindakan melecehkan. Saya hanya merasa bahwa kita terlalu cepat mengabaikan kenyataan elementer ini: manusia memiliki nafsu, dan nafsu itu bisa dipicu. Tentu saja, pemicu bukanlah penyebab. Tentu saja, setiap orang dewasa yang waras memiliki tanggung jawab penuh untuk mengendalikan dirinya. Saya setuju itu. Tapi apakah kita benar-benar bisa mengatakan bahwa seseorang yang berjalan sendirian di gang gelap dengan perhiasan mencolok tidak mengambil risiko apa pun? Apakah kita bisa mengatakan bahwa risiko itu tidak nyata hanya karena pelaku kejahatanlah yang sepenuhnya salah? Di sini saya bergulat dengan diri sendiri. Saya tidak ingin menjadi naif tentang realitas sambil tetap berpegang pada prinsip bahwa tubuh siapa pun bukanlah properti publik yang bisa disalahkan.
Semakin saya merenung, semakin saya menemukan paradoks dalam posisi kita semua. Pernahkah kita berpikir bahwa hampir setiap dari kita pernah menjadi korban sekaligus pelaku? Mungkin bukan dalam skala yang sama, bukan dalam bentuk yang seberat itu. Tapi dalam dimensi verbal, dalam ranah candaan dan komentar, berapa kali kita telah melukai orang lain dengan kata-kata bermuatan seksual tanpa kita sadari? Dan berapa kali kita sendiri merasa direndahkan oleh ucapan orang lain? Saya sendiri tidak bisa mengaku bersih. Saya ingat beberapa kali dalam hidup saya melontarkan gurauan yang sekarang saya sesali, gurauan yang mungkin telah membuat seseorang merasa tidak nyaman tanpa saya tahu. Di saat yang sama, saya juga pernah menjadi sasaran komentar yang membuat saya merasa ternodai. Lalu saya bertanya: di manakah saya berdiri sekarang ketika saya ikut mengutuk para pelaku? Apakah saya sedang menghakimi versi lain dari diri saya sendiri? Ataukah justru saya sedang berusaha melarikan diri dari bayang-bayang kesalahan saya sendiri dengan menjadi begitu lantang membela korban? Saya tidak tahu jawabannya, dan justru ketidaktahuan inilah yang membuat saya tidak bisa tidur.
Kita hidup di zaman yang aneh. Di satu sisi, kita membela korban dengan semangat yang menyala-nyala. Di sisi lain, kita tidak segan segan membalas pelaku dengan bentuk pelecehan lain. Saya menyebutnya pelecehan, dan saya tidak berlebihan. Coba perhatikan bagaimana massa bereaksi terhadap seorang pelaku yang identitasnya terungkap. Ia dihina fisiknya. Ia diancam dengan kekerasan. Keluarganya diseret-seret. Foto-fotonya disebar dengan caption yang menjijikkan. Bukankah ini juga bentuk pelecehan? Bedanya hanya ia dilakukan atas nama keadilan. Saya bergidik menyaksikan ini semua. Kita mengutuk tindakan merendahkan manusia, lalu kita melakukan tindakan yang persis sama untuk menghukumnya. Apakah ini keadilan yang kita perjuangkan? Ataukah ini sekadar pelampiasan kebencian kolektif yang menemukan sasaran yang sah secara moral? Saya tidak bisa menerima bahwa keadilan harus dibangun di atas fondasi yang sama busuknya dengan kejahatan yang ingin dihukum. Jika kita benar-benar ingin memperbaiki dunia, kita harus mulai dari cara kita sendiri dalam merespons keburukan.
Jangan salah paham. Saya tidak sedang mangkir dari kewajiban untuk berpihak. Saya paham bahwa dalam ketimpangan kuasa yang nyata, antara atasan dan bawahan, antara guru dan murid, antara orang dewasa dan anak-anak, keberpihakan adalah keniscayaan etis. Tetapi keberpihakan tidak harus berarti menutup mata pada kompleksitas. Justru karena saya berpihak pada korban, saya ingin pembelaan itu dilakukan dengan cara yang benar, bukan dengan cara yang justru merusak kredibilitasnya sendiri. Saya ingin kita bisa membedakan antara kasus yang jelas-jelas melibatkan penyalahgunaan kekuasaan dan kasus yang lahir dari zona abu-abu interaksi manusia. Saya ingin kita bisa bertanya tanpa takut dicap. Saya ingin kita bisa menganalisis setiap klaim dengan saksama, memilah mana yang tulus dan mana yang mungkin dimanipulasi, karena dusta juga bisa merangkak masuk ke dalam pakaian penderitaan. Ini bukan berarti tidak percaya pada korban. Ini berarti percaya bahwa kebenaran cukup kokoh untuk diuji.
Saya teringat pada satu petuah dari Kitab Suci saya, yang selalu menghantui saya: cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Dua hal yang tampak bertentangan, tetapi justru harus dijalankan serempak. Kecerdikan untuk melihat lapis-lapis realitas, untuk tidak mudah terhanyut oleh arus emosi, untuk mencurigai simplifikasi dan menolak penghakiman instan. Ketulusan untuk tetap percaya bahwa keadilan layak diperjuangkan, bahwa korban yang benar-benar menderita pantas mendapatkan pembelaan sejati, dan bahwa kita semua memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ruang yang lebih aman bagi siapa pun. Tanpa kecerdikan, ketulusan akan menjadi naif, mudah dimanfaatkan, dan akhirnya kehilangan arah. Tanpa ketulusan, kecerdikan akan menjadi sinis, dingin, dan kehilangan nyali untuk berpihak pada yang lemah. Saya ingin memegang keduanya, meskipun itu berarti saya harus terus-menerus berada dalam ketegangan.
Akhirnya, saya harus mengakui sesuatu yang mungkin tidak normal dalam kalangan mayor. Saya tidak percaya bahwa kita, yang begitu bising mengutuk di media sosial, adalah agen keadilan murni. Kita terlalu cepat menghakimi, terlalu jarang merenung, dan terlalu sering menggunakan kemarahan moral sebagai tameng untuk tidak berpikir lebih dalam. Keadilan sejati, dalam bayangan saya yang paling jujur, tidak berdiri di atas satu bingkai saja. Ia menuntut kita untuk melihat lebih luas, untuk mendengarkan suara-suara yang tidak nyaman, untuk menunda penghakiman demi pemahaman, dan yang paling berat, untuk mengakui bahwa dalam banyak kasus, kebenaran tidaklah hitam-putih. Ia berlapis, ia rumit, dan ia menuntut kesabaran yang mungkin tidak kita miliki. Tapi justru di situlah letak perjuangannya. Bukan dalam memenangkan satu pihak, melainkan dalam mempertahankan proses berpikir itu sendiri dari godaan untuk berhenti. Saya menulis ini bukan untuk menawarkan jawaban, melainkan untuk menghidupkan pertanyaan. Sebab mungkin hanya dengan terus bertanya, kita bisa berharap untuk tiba pada keadilan yang tidak sekadar menjadi bayang bayang dari amarah kita sendiri.
"Bersikap kritis itu bukan terkait penyangkalan. Tapi menjadi aktif dalam mengadakan kebenaran."



Komentar
Posting Komentar