Yang Sudah Ada, Tapi Tidak Pernah Hadir
Ada momen-momen dalam hidup yang membuat kita terdiam bukan karena tak punya jawaban, melainkan karena pertanyaan itu sendiri menyentuh sesuatu yang terlalu intim untuk sekadar dijawab. Malam itu, dalam kotak-kotak piksel yang menghubungkan saya dan seorang kawan lewat panggilan video, kami meminta AI mengajukan beberapa pertanyaan dan yang tampaknya sederhana dan terpilihlah pertanyaan: "Apakah cinta itu ditemukan atau diciptakan?"
Beberapa detik kami terdiam. Bukan diam yang kosong, melainkan diam yang penuh (penuh dengan ingatan, pengalaman, luka, dan harapan yang berkaitan dengan kata empat huruf itu). Lalu kawan saya mempersilakan saya menjawab lebih dulu. Seolah-olah saya mempunyai jawab yang pasti akan itu semua. Dan tentulah saya mulai dari kegelisahan saya. Saya ingin sebenarnya setiap pembahasan terkait cinta itu selesai, final. Sebab pertanyaan itu, sejujurnya, membuat saya gelisah. Bukan karena saya tidak tahu apa itu cinta, melainkan karena saya merasa dikotomi "ditemukan versus diciptakan" terlalu ekstrem, terlalu simplistik untuk menampung kompleksitas cinta itu sendiri. Seolah-olah cinta adalah benda mati yang bisa kita temukan di suatu sudut jalan atau kita ciptakan di laboratorium perasaan. Padahal cinta, dalam pengalaman saya, tidak pernah sesederhana itu. Maka saya menjawab dengan kata yang bahkan membuat saya sendiri sempat ragu: "Cinta itu dihadirkan." Tentu saja kawan saya bingung. Matanya menyipit di layar, alisnya terangkat, dan ia bertanya dengan nada yang hati-hati, "Bukankah dihadirkan itu sama saja dengan diciptakan?" Pertanyaan yang valid. Sebab secara semantik, menghadirkan memang mengandung unsur membuat sesuatu menjadi ada.
Tapi di sinilah letak perbedaan fundamental yang coba saya bangun. Ketika kita mengatakan sesuatu "diciptakan", kita sedang berbicara tentang eksistensi yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Creatio ex nihilo, penciptaan dari ketiadaan. Dalam konteks cinta, narasi "menciptakan" seolah menempatkan manusia sebagai Tuhan kecil yang bisa memproduksi cinta dari kekosongan absolut. Ini terlalu arogan, dan jika boleh jujur, terlalu romantis dalam arti yang menyesatkan. Sebab jika cinta bisa diciptakan, ia juga bisa dimusnahkan semudah kita menghapus file di gdocs. Cinta lalu menjadi artefak, produk manusia yang nilainya tergantung pada seberapa terampil kita merakitnya. Sementara "menemukan" juga problematis dengan caranya sendiri. Ia mengandaikan cinta sebagai entitas yang sudah jadi, tersembunyi di suatu tempat, dan tugas kita hanya berjalan-jalan sampai secara kebetulan tersandung olehnya. Ini melucuti agensi manusia. Seolah-olah kita hanya penonton pasif dalam drama cinta yang entah kapan akan dimulai. Narasi menemukan juga melahirkan ilusi berbahaya tentang "cinta sejati" yang tinggal menunggu untuk ditemukan, sebuah gagasan yang telah menghancurkan banyak hubungan karena orang lebih sibuk mencari daripada merawat.
Lalu apa bedanya "dihadirkan"?
Saya mengambil kata ini dengan kesadaran penuh akan akar teologis dan filosofisnya. Dalam tradisi spiritual, menghadirkan bukanlah menciptakan dari ketiadaan, melainkan menyatakan yang sudah ada namun belum tampak. Seperti cahaya yang dihadirkan oleh lampu, cahaya itu tidak diciptakan oleh saklar, ia adalah potensi yang sudah ada dalam aliran listrik, dan saklar hanya menjadikannya nyata. Atau seperti musik yang dihadirkan oleh pemain piano, nada-nada itu sudah ada sebagai kemungkinan dalam tuts dan senar, dan sang pianis hanya memberi mereka bentuk dan urutan. Begitu pula cinta. Saya percaya, dan ini adalah lompatan iman yang tidak bisa saya buktikan secara empiris, bahwa cinta sudah ada. Sudah bersemayam di antara makhluk. Ia adalah realitas primordial yang mendahului kesadaran kita tentangnya. Dalam bahasa yang lebih puitis, cinta adalah udara spiritual yang kita hirup tanpa sadar, aliran bawah tanah yang mengairi akar-akar eksistensi kita.
Tapi cinta yang "sudah ada" ini belum tentu "hadir". Dan di sinilah letak permasalahan besarnya. Sebab menghadirkan cinta bukanlah perkara mudah. Ia menuntut sesuatu dari kita. Ia meminta kesadaran, keberanian, dan seringkali pengorbanan. Menghadirkan cinta adalah kerja aktif mengisi keabsenan, keabsenan perhatian, keabsenan kelembutan, keabsenan penerimaan, keabsenan pengampunan. Saya jadi teringat percakapan saya dengan seorang sahabat beberapa minggu yang lalu, yang hubungannya sedang di ujung tanduk. "Aku tahu aku mencintainya," katanya suatu kali, "tapi aku tidak bisa menghadirkannya." Di situ saya mengerti. Cinta sebagai potensi ada di dalam dirinya, tapi ia gagal menghadirkannya dalam tindakan-tindakan kecil: dalam mendengarkan tanpa membela diri, dalam menyentuh tanpa syarat, dalam diam yang tidak menghakimi. Cintanya ada, tapi absen dari realitas hubungan mereka.
Maka "dihadirkan" adalah jawaban yang menuntut tanggung jawab. Ia menolak kemalasan "menemukan" yang hanya menunggu keajaiban, sekaligus menolak kesombongan "menciptakan" yang mengira kita bisa memproduksi cinta dengan teknik dan strategi. Menghadirkan cinta adalah seni menerjemahkan yang abadi ke dalam yang fana, yang universal ke dalam yang partikular, yang sudah-sudah ke dalam yang sedang-berlangsung. Tentu saja ini bukan jawaban yang memuaskan secara definitif. Kawan saya masih tampak bergulat dengan ambiguitas di kepalanya. Dan mungkin memang begitulah seharusnya. Sebab pertanyaan tentang cinta tidak pernah dirancang untuk dijawab dengan tuntas. Ia dirancang untuk terus ditanyakan, terus digali, terus dihidupi.
Video call malam itu akhirnya berakhir dengan tawa kecil. Kami sepakat untuk tidak sepakat, atau lebih tepatnya, sepakat bahwa ketidakpastian ini justru yang membuat cinta tetap menarik. Dan diam-diam saya menyimpan keyakinan bahwa percakapan itu sendiri, meski melalui AI yang dingin dan layar yang datar, adalah sebuah tindakan menghadirkan cinta. Sebab di dalamnya ada kejujuran, ada kerentanan, ada kemauan untuk mendengarkan dan dipusingkan bersama. Pada akhirnya, mungkin cinta memang tidak perlu jawaban. Yang ia butuhkan adalah kehadiran. Dan malam itu, di antara piksel-piksel yang berkedip, kami telah menghadirkannya.
"Dengan adanya ini, saya juga mengingat bahwa satu orang dalam hidup saya pernah mengatakan sedemikian tentang saya: "kamu ada. Tapi ga pernah hadir." Terlepas dari ke-sok sibukan saya, saya merasa bahwa sekarang saya perlu hadir seutuhnya di dalam dunia."
Sekian dan Maacih...



Komentar
Posting Komentar