Curhatan dua minggu

 Dua minggu aku mengembara dalam labirin sunyi. Di kepalaku, nama-nama besar itu menari, berkejaran, bertumpuk, saling tindih seperti lembaran buku yang basah dan lengket. Aku hanya punya satu pertanyaan sederhana yang ternyata menjelma monster: Teolog mana yang pantas bercumbu dengan Nietzsche dalam tulisanku? Kata “bercumbu” sengaja kupilih. Aku tak ingin pernikahan teologis yang rapi dan steril, apalagi debat kaku penuh apologetika. Aku menginginkan percakapan liar dua kekasih di tepi jurang, saling menggoda, saling membongkar, kadang melukai, tapi selalu intim. Dan di tengah pencarian itu, aku tersesat.

Mula-mula Bonhoeffer datang dengan pesonanya. Teolog martir yang berbicara tentang “dunia yang telah dewasa”, etsi deus non daretur, yakni hidup seakan-akan Tuhan tidak ada. Di satu titik, ia begitu dekat dengan Nietzsche: sama-sama menolak “Tuhan pengisi celah”, sama-sama menginginkan kekristenan yang jujur di hadapan absennya Yang Ilahi. Tapi kemudian aku sadar, Bonhoeffer terlalu Kristosentris, terlalu terpaku pada “Gereja bagi orang lain”. Cumbunya akan segera berubah menjadi doa. Nietzsche akan mencemooh doa itu, dan percakapan akan buntu dalam keheningan salib. Aku mundur.

Lalu datang Karl Barth. Raksasa dengan suara guntur dari Römerbrief-nya. Bagiku, Barth adalah tembok raksasa yang menolak teologi kodrati. Baginya, wahyu adalah satu-satunya cara mengenal Allah. Sementara Nietzsche, nabi Zarathustra itu, justru mengutuk setiap wahyu yang jatuh dari langit sebagai bayangan lemah manusia. Aku bayangkan keduanya bertemu: Barth akan menggelegar dengan “Allah yang sama sekali lain”, Nietzsche akan tertawa dan menyebutnya sebagai “metafisika algojo”. Bukan cumbu, melainkan benturan dua kereta api di jalur yang sama. Bukan itu yang kucari.

Lalu muncullah Thomas J.J. Altizer. Ah, Altizer. Teolog “Kematian Tuhan” yang radikal, yang dengan berani menyatakan bahwa Allah mati dalam inkarnasi agar manusia bisa hidup. Sekilas ia adalah pasangan sempurna bagi Nietzsche. Mereka seperti dua penyair mabuk yang merayakan kekosongan. Tapi justru di situ letak masalahnya: mereka terlalu serupa. Altizer adalah gema yang terlalu patuh pada Nietzsche. Percakapan mereka akan menjadi ritual saling mengamini. Tak ada ketegangan, tak ada kejutan. Cumbu yang tanpa resistensi hanyalah onani intelektual. Kelelahan melandaku. Kertas-kertas berserakan. Aku tenggelam dalam kebingungan yang sesak.

Anehnya, di tengah kabut itu, satu nama sebenarnya sudah berbisik sejak lama: Paul Tillich. Tapi dia bersembunyi. Selalu bersembunyi. Aku mengutuk diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku melupakan nama itu selama dua pekan penuh? Dan tahukah siapa yang menutupinya? Paul Ricoeur. Ya, Paul Ricoeur, yakni sang hermeneut, sang penafsir ulung, yang namanya selalu hadir dalam setiap diskusi tentang teks, makna, dan identitas. Setiap kali otakku mencoba meraba nama depan “Paul”, Ricoeur-lah yang muncul lebih dulu, dengan gagah dan penuh wibawa, membawa sekoper penuh teori interpretasi. Ia menutupi Tillich seperti pohon rindang menutupi semak mawar di bawahnya. Si Paul yang satu mengaburkan si Paul yang lain.

Sampai suatu malam, dalam keheningan yang hampir putus asa, aku memejamkan mata. Aku mencoba mengingat kembali rasa itu: rasa ketika pertama kali membaca The Courage to Be beberapa tahun lalu. Dan nama itu meledak pelan: Tillich. Paul Tillich. Seketika aku tahu, dialah jawabannya.

Tillich adalah teolog yang tak takut berdiri di perbatasan. Metode korelasinya adalah undangan terbuka bagi filsafat eksistensialisme untuk duduk semeja dengan teologi. Ia mendengarkan jeritan manusia modern, yakni kecemasan, keterasingan, ketiadaan makna, dan menemukan di sana “pertanyaan” yang digali oleh Nietzsche dengan sekop paling tajam. Nietzsche bertanya: “Apa artinya hidup setelah Tuhan mati?” Tillich menjawab, bukan dengan dogma, melainkan dengan bisikan: “Tuhan di atas Tuhan.” Bukan Tuhan teistik yang dibunuh Zarathustra, melainkan Ground of Being, Dasar Keberadaan yang tak terbayangkan. Mereka bisa bercumbu. Ah, betapa mereka bisa bercumbu! Nietzsche menyerang dengan palu, Tillich merespons dengan pelukan ontologis. Nietzsche menyebut iman sebagai pelarian, Tillich membisikkan “keberanian untuk menerima ketidakberterimaan.” Di titik pertemuan antara kehendak untuk kuasa dan Ultimate Concern (Kepedulian Ultim), keduanya bukan lagi musuh. Mereka adalah sepasang penari di atas jurang, saling tarik dalam gravitasi makna.

Aku tersenyum getir pada diriku sendiri. Berbulan-bulan aku mengagumi Tillich di masa lalu, dan kini di saat genting, namanya nyaris hilang ditelan bayang-bayang Ricoeur. Otak sialanku ini rupanya terlalu dangkal menyamakan dua “Paul” menjadi satu ekosistem ingatan. Tillich bukan sekadar teolog Protestan abad lalu; ia adalah mistikus rasional, penyair dari The New Being. Kini keputusan sudah jatuh. Tak perlu lagi aku mengembara. Tapi perjalanan sejati belum selesai.

Aku menatap tumpukan buku di sudut meja, dan jariku mencari tiga jilid unik yang selama ini tersimpan sunyi. Tiga buku itu akan kubaca ulang, bukan sekadar sebagai bahan akademis, tapi sebagai percakapan segar sebelum aku mempertemukan sang teolog dengan filsuf beranting cemara. Ada The Courage to Be yang ramping tapi padat, tempat Tillich mendefinisikan iman sebagai keberanian melawan kecemasan eksistensial. Ada Love, Power, and Justice, tempat ontologi cinta dirajut dengan cara yang mungkin akan membuat Nietzsche meringis tajam namun terpikat. Dan ada Dynamics of Faith, buku mungil yang membedah iman dari sekadar “iman percaya” menjadi keterpautan ultim. Aku akan membacanya lagi, kali ini dengan mata baru. Mata seorang mak comblang yang akan mempertemukan Tillich dan Nietzsche dalam satu ruangan sempit tulisanku. Aku tak sabar mendengar percakapan mereka: Nietzsche yang berteriak, Tillich yang berbisik. Satu menghancurkan berhala, satu lagi menunjukkan Bayang Ilahi di balik ketiadaan.

Dua minggu kebingungan ini ternyata bukan kutukan. Ia adalah masa gestasi, rahim gelap yang menyembunyikan nama itu sampai aku cukup matang untuk menyadarinya. Terima kasih, Bonhoeffer, Barth, Altizer, dan maafkan aku, Ricoeur, karena namamu nyaris membuatku melupakan sang kekasih sejati perbincangan ini.

Komentar

Postingan Populer