Hiduplah dengan Ketidakpastiannya
Pertanyaan tentang makna tidak pernah pergi karena memang tidak seharusnya pergi. Ia adalah luka yang harus tetap terbuka, sebab luka yang terlalu cepat menutup hanya menyembunyikan racun di dalamnya. Dan racun itu bernama kepuasan yang prematur, penerimaan yang pengecut, kedamaian yang dibeli dengan harga pengkhianatan terhadap diri sendiri. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang tahu ia akan mati, dan memilih menghabiskan hidupnya berpura-pura tidak tahu. Itu bukan tragedi. Itu komedi paling gelap yang pernah dipentaskan di atas panggung semesta yang tidak peduli apakah ada penonton atau tidak.
Semua sistem yang ditawarkan dunia, agama, ideologi, self-help, spiritualitas pasar, pada dasarnya adalah variasi dari satu proyek yang sama: membuat manusia cukup nyaman untuk berhenti bertanya. Membuat ketidakpastian terasa bisa ditoleransi tanpa harus benar-benar dihadapi. Ini bukan pencerahan. Ini anestesi. Dan perbedaan antara keduanya adalah perbedaan antara manusia yang hidup dan manusia yang sekadar bernapas dengan nyaman hingga mati. Makna tidak ditemukan. Makna diciptakan, dipaksakan ke dalam kenyataan yang bisu dan acuh tak acuh, dengan seluruh kekuatan kehendak yang ada. Semesta tidak menyimpan makna di suatu tempat yang tersembunyi, menunggu manusia yang cukup sabar atau cukup suci untuk menemukannya. Semesta tidak menyimpan apa-apa. Semesta tidak berbicara. Semesta tidak peduli. Dan justru dari ketidakpedulian itulah satu-satunya makna yang jujur bisa lahir, bukan makna yang diwariskan atau diterima, melainkan makna yang direbut, yang dipilih dengan sadar di tengah kegelapan yang tidak menjanjikan apa-apa.
Ini bukan pesimisme. Pesimisme masih percaya bahwa ada standar kosmis yang gagal dipenuhi hidup. Ini adalah sesuatu yang lebih keras: luciditas. Kejernihan yang tidak membutuhkan penghiburan. Tujuan yang tidak pernah diuji adalah tujuan yang mati sejak awal. Dan kebanyakan manusia menjalani hidup dengan tujuan yang belum pernah sekalipun dipaksa berdiri di bawah cahaya yang jujur. Tujuan itu diambil dari orang tua, dari budaya, dari ekspektasi yang menumpuk perlahan seperti sedimen hingga terasa seperti tanah tempat berpijak, padahal itu adalah lumpur yang menelan perlahan. Yang berani bukan yang menemukan tujuan yang nyaman. Yang berani adalah yang bersedia menghancurkan tujuan lamanya sendiri, berdiri di atas puing-puingnya, dan membangun sesuatu yang lebih jujur dari kehancuran itu.
Tidak berdamai dengan ketidakpastian bukan kelemahan yang puitis. Itu adalah penolakan untuk menjadi ternak yang jinak. Karena berdamai dengan ketidakpastian, dalam pengertian yang paling umum, berarti belajar untuk tidak terlalu memikirkannya, mengalihkan perhatian, menemukan ritme yang bisa diikuti tanpa terlalu banyak pertanyaan. Dan ritme itu, betapapun menyenangkannya, adalah ritme kawanan. Bukan ritme manusia yang sungguh-sungguh hidup. Misteri hidup bukan sesuatu yang menyejukkan. Ia tidak hadir dengan ketenangan. Ia hadir dengan vertigo, dengan rasa lantai yang hilang di bawah kaki, dengan kesadaran bahwa tidak ada pegangan yang benar-benar solid di mana pun. Dan di situlah pilihan yang paling fundamental terjadi, bukan pilihan tentang karier atau hubungan atau keyakinan, melainkan pilihan tentang apakah seseorang akan menanggung ketidakpastian itu dengan mata terbuka, atau akan memilih kebutaan yang nyaman karena kebutaan terasa lebih seperti kedamaian.
Hidup sebagai misteri bukan undangan untuk pasrah. Ia adalah tantangan untuk menjadi cukup kuat menanggung pertanyaan yang tidak menjawab dirinya sendiri, cukup jujur untuk tidak mengisi kekosongan dengan jawaban palsu, dan cukup berani untuk terus bergerak meski peta tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada. Semesta bisu. Pertanyaan tetap bertanya. Dan di dalam ketegangan antara keduanya, di situlah satu-satunya tempat yang layak untuk berdiri.
"Hidup bukan teka-teki yang perlu dipecahkan. Ia adalah api yang perlu ditanggung."



Komentar
Posting Komentar