Tuhan, Taruh Aku Saja di Neraka Orang-Orang yang Tidak Tahu Apa-Apa

Tuhan, malam ini aku berdoa dengan nada yang mungkin tak sopan. Aku tidak datang dengan kidung pujian, melainkan dengan sebuah tawar-menawar yang ganjil: "Tuhan, koruptor akan Kau letakkan di mana? Bersama-Mu karena kepintarannya, atau bersamaku di ketidaktahuannya?" Pertanyaan ini lahir dari kekesalan lama yang tak kunjung reda. Setiap kali menyaksikan para maling berdasi menerima penghargaan, menghadiri acara keagamaan sebagai donatur utama, dan duduk di barisan paling depan rumah ibadah, aku bertanya-tanya: jangan-jangan surga memang dirancang khusus untuk orang-orang pintar macam mereka. Sementara aku? Aku bahkan tidak mengerti bagaimana bisa uang negara lenyap hanya melalui ketikan di papan spreadsheet. Itu saja sudah menunjukkan betapa dungunya aku.

Lihatlah para koruptor itu, Tuhan. Mereka adalah seniman finansial yang melukis mahakarya di atas kanvas proyek fiktif. Mereka piawai menciptakan istilah-istilah magis seperti mark-up, kickback, cost recovery, dan SPV—kosakata yang terdengar begitu canggih di ruang sidang. Mereka bukan sekadar pencuri biasa; mereka adalah intelektual yang membaca undang-undang dengan saksama untuk menemukan celah seluas lapangan sepak bola. Sementara itu, ketika aku diminta menjelaskan apa itu money laundering, aku hanya bisa membayangkan seseorang mencuci uang kertas di ember. Ironis sekali, bukan? Maka aku cemburu. Bukan pada kekayaan mereka—meskipun angka Rp279,9 triliun itu cukup membuatku ingin pingsan—melainkan pada otak mereka. Mereka menyandang gelar: sarjana, magister, doktor, bahkan profesor. Di ruang kuliah, mereka menulis tesis tentang good governance, tentang etika pelayanan publik, tentang integritas. Lalu di ruang rapat, mereka mengubah teori itu menjadi senjata untuk membungkam audit. Bukankah itu jenius? Mereka berhasil mengawinkan ilmu pengetahuan dengan kriminalitas secara elegan. Aku yang hanya bisa tercengang membaca berita, tak pantas dibandingkan.

Lantas, ke mana gerangan Kau tempatkan mereka, Tuhan? Dalam bayangan naifku dulu, tentu mereka ke neraka. Tapi belakangan aku ragu. Bukankah di banyak mimbar agama, "berkat" dan "talenta" adalah tanda perkenanan ilahi? Jika kepintaran adalah talenta, dan talenta yang berlipat ganda menghasilkan kemakmuran material, maka bukankah para koruptor itu adalah teladan paling sukses dari perumpamaan talenta? Mereka menghasilkan tiga, lima, bahkan seratus kali lipat dari modal awal—meskipun modal itu milik rakyat. Teologi kemakmuran akan memberi mereka tepuk tangan meriah. Mungkin malaikat sudah menyiapkan red carpet. Atau jangan-jangan, Tuhan, Engkau sendiri sudah lelah dengan tangis para janda dan petani kalah. Mungkin Engkau sudah menyerah menghadapi doa-doa yang tak kunjung dikabulkan, dan memilih untuk mendengarkan presentasi PowerPoint para koruptor yang lebih persuasif. Siapa tahu di surga sana sudah ada advisory board penuh para mantan pejabat yang direformasi melalui jalur langit.

Aku tidak memohon supaya Engkau mengutuki mereka. Tidak. Aku hanya ingin mengajukan penawaran kecil. Jika tiba waktunya nanti, panggillah aku dan berkata, "Hai, orang dungu yang tidak tahu apa-apa. Ini surga-Ku. Penuh dengan orang pintar. Apakah kau mau masuk?" Aku akan menolak halus. "Maaf, Tuhan. Aku tidak sudi." Percuma surga jika tetanggaku adalah mereka yang dulu merampas hak rakyat kecil sambil tersenyum. Aku tidak ingin bernyanyi dalam paduan suara surgawi yang diisi oleh para koruptor yang kini menyandang status "terpidana yang insaf." Insaf macam apa? Insaf setelah tertangkap, insaf karena bukan lagi bisa korupsi, insaf karena sudah cukup menimbun. Surga seharusnya bukan tempat rehabilitasi citra.

Biarlah aku tetap di sini, di bumi yang mencatat statistik dengan jujur. Di negeri ini, ketidaktahuan bukanlah kebodohan; ia adalah luka yang sah. Rakyat kecil yang tak paham anggaran, petani yang tak tahu mengapa pupuk langka, buruh yang tak mengerti mengapa upahnya tak naik sementara infrastruktur megah berdiri di mana-mana—merekalah kaum "yang tidak tahu" yang paling autentik. Dan jika harus memilih, aku lebih rela duduk di antara mereka dalam kegelapan, daripada bercengkerama dengan para cerdik pandai di bawah cahaya kemunafikan. Aku bahkan siap jika nanti, dalam penghakiman terakhir, dosa kebodohanku lebih besar daripada dosa kecerdasan mereka. Aku akan menerima vonis apa pun. Asal jangan suruh aku satu paduan suara dengan suara bariton para maling. Surga mereka—jika ada—mungkin berlapis emas dari uang rakyat. Mungkin pilar-pilarnya terbuat dari beton proyek fiktif. Mungkin sungai susunya adalah hasil penggelembungan dana BOS. Aku tidak ingin.

Jadi, begini saja, Tuhan. Aku tidak meminta Engkau menurunkan api dari langit. Aku hanya mau bikin kesepakatan kecil. Jika nanti ternyata surga-Mu penuh dengan mereka—dan surga itu adalah tempat yang mulia—tolong buatkan aku gubuk kecil di pinggirannya. Atau lebih baik, taruh aku di tempat lain yang tidak terlalu ramai. Mungkin di samping para nabi yang juga tak mengerti mengapa domba yang gemuk selalu disembelih, bukan yang kurus. Aku mencintai ketidaktahuanku. Karena di dalamnya ada ketulusan yang tak bisa dibeli dengan triliunan rupiah. Selamat malam, Tuhan. Jangan tersinggung.


Komentar

Postingan Populer