Dia, Devis.
Dia kawanku, Devis. Ah, kawan yang baik. Pekerja yang ulung. Kemanusiaannya tak perlu di sangkal lagi. Teologi ekologi, teologi pembebasan, teologi harapan, peneumatologi, itu makanannya. Semua terangkum lihai nan indah bersama dirinya. Aku ingin menulis dirinya karena bentuk kebersyukuranku. Artinya adalah, tak ada yang seberani dirinya selama aku mengenal orang banyak. Mengapa demikian? Dia tidak berpatok pada teori. Patokan ia adalah realitas. Maksudnya adalah, dia tidak pernah memikirkan Tuhan yang rasional. Ia hanya perlu tahu bahwa Tuhan itu relasi, Tuhan itu berpihak, Tuhan itu ada-bersama, maka ia cerminkan pada yang rentan. Tentu, tujuannya bukan menjadikan orang-orang itu objek. Karena Devis tahu, bahwa Tuhan bersama mereka.
Aku teringat satu momen ketika Devis menunjukkan keberpihakannya pada mereka yang tersingkir. Ketika ia memaksa dirinya untuk pergi ke salah satu gereja yang tertinggal di kaki gunung. Ia tidak memegang uang banyak. Ia hanya bermodal sepeda motor, dan untuk bensin, atau mungkin rokok. Dengan perasaan yang miris dan bersamaan dengan semangat, ia memutuskan untuk kesana. Tanpa ada persetujuan siapa pun. Devis tinggal disana, mengikuti setiap kegiatan yang disana. Ia menjadi petani. Ia menyangkul, menanam, atau mungkin mengolah pupuk untuk tanaman. Tak kalah mencengangkan, ia membawa data yang ia lihat untuk ia beritahu orang banyak tentang kondisi disana. Pekerjaannya ini tentu membuat ku tercengang juga. Sewaktu ia bercerita tentang bagaimana ia sewaktu itu, aku berpikir keras tentang bagaimana ia menghajar realitas.
Dia memberi tahu secara tidak langsung, bahwa perubahan bukan langsung menuju kepada sistem. Perubahan perlu dari orang-orang nekat yang sadar bahwa ada yang tidak baik. Devis percaya, bahwa Tuhan bersama orang-orang yang benar. Tapi dia tidak percaya bahwa Tuhan bersama dia. Itu cukup aneh. Yang ku tahu adalah, tindakannya secara teologis adalah tindakan yang radikal. Dia masih berstatus mahasiswa, dia tidak ada pegangan (bekingan) siapa-siapa. Ia hanya mengandalkan motor, bensin, rokok, iman. Keempat ornamen itu rasanya mustahil untuk menciptakan perubahan. Dan Devis berhasil menjawab kemustahilan ku.
Layaknya KDM (Kang Dedi Mulyadi), Devis juga terlihat seperti itu. Ia membereskan baliho-baliho partai yang di pasang di depan gereja dan melarang penjual di selasar depan gereja. Sekilas ini seperti tindakan Yesus yang mengacak-acak Bait Allah karena ada yang berjualan (jika aku tidak berlebihan). Ya, dia menertibkan. Seakan-akan memang benar, ia hanya takut pada Tuhan. Lalu disitulah aku melihat, menganalisis, bahwa, ya, inilah Devis. Ia tidak perlu menunjukkan dirinya siapa dan darimana. Ia bekerja dengan kebijaksanaan dan ketidaktahuan. Ketika pekerjaannya selesai, ia hanya tahu "oh ini kebaikan".
Aku ingin mengulang lagi apa yang membuatku terpana. Bukan karena ia hebat di atas kertas, bukan juga karena ia punya jawaban untuk setiap persoalan teologis yang rumit. Tetapi karena ia memilih untuk membiarkan realitas bicara lebih keras dari teorinya. Teologi-teologi yang ia konsumsi—ekologi, pembebasan, harapan, pneuma—biasanya menjadi alat untuk membangun wacana di ruang kuliah. Tetapi baginya, semua itu hanya berguna jika ia turun dan mengotori tangannya. Ia tidak pernah terjebak dalam perdebatan tentang definisi Allah yang tepat. Baginya, Allah sudah jelas dalam tindakan-Nya yang memihak. Tugas Devis bukan merumuskan kembali Tuhan, melainkan meneladani gerak Tuhan yang selalu berada di sisi yang lemah. Itulah sebabnya ia tidak pernah menjadikan orang-orang di kaki gunung itu sebagai proyek atau objek penelitian. Jika ia mengumpulkan data, itu bukan untuk tesisnya, tetapi untuk menyuarakan apa yang mereka alami. Ia adalah alat, dan alat tidak pantas bermegah.
Mengenai keputusannya untuk pergi ke gereja itu, aku bisa membayangkan betapa gilanya langkah itu di mata orang kebanyakan. Seorang mahasiswa tanpa dana, tanpa relasi, tanpa restu formal, memutuskan untuk hidup di tempat yang bahkan mungkin tidak memiliki sinyal atau listrik yang memadai. Tetapi Devis tidak pernah menghitung-hitung risiko dengan cara yang lazim. Ia hanya melihat bahwa ada kebutuhan mendesak di sana, sementara ia memiliki dua tangan dan sepasang kaki yang bisa dipakai. Maka ia pakai. Ia mengganti baju kuliahnya dengan baju lapangan, dan ia belajar dari petani-petani tua yang mungkin tidak pernah mendengar istilah teologi pembebasan dalam hidup mereka. Tetapi mereka mengajarinya lebih banyak daripada buku-buku yang ia baca. Mereka mengajarinya bahwa iman adalah soal bertahan, soal membagi bibit walau hasil belum pasti, soal tetap tersenyum walau hujan gagal datang. Dan Devis menangkap semua itu tanpa perlu menuliskannya dalam jurnal ilmiah. Ia cukup membawa data konkret tentang hasil panen dan harga pupuk untuk kemudian ia sampaikan kepada khalayak yang lebih luas. Bagiku, itu adalah bentuk penerjemahan yang setia: dari jeritan di ladang menjadi seruan di kota.
Aku juga terus memikirkan pernyataannya yang paradoksal tentang Tuhan. Devis yakin bahwa Tuhan bersama orang-orang benar, tetapi ia tidak yakin bahwa Tuhan bersama dia. Di satu sisi, ini membingungkan. Sebab jika ia melakukan semua perbuatan baik ini, bukankah ia termasuk orang benar? Tetapi semakin aku merenungkan kata-katanya, aku melihat ada kebijaksanaan di sana. Devis tidak mau mengklaim kemesraan istimewa dengan Tuhan. Ia takut jika itu terjadi, ia akan mulai bertindak atas nama Tuhan, dan perlahan-lahan menggantikan suara Tuhan dengan suaranya sendiri. Ia lebih suka berada dalam posisi yang tidak pasti: ia tahu Tuhan ada, tetapi ia tidak tahu apakah Tuhan memihak padanya secara personal. Dan justru ketidaktahuan itu yang membuatnya terus bergerak dengan rendah hati. Ia tidak perlu diyakinkan bahwa ia diselamatkan atau diberkati. Ia hanya perlu diyakinkan bahwa ada orang lain yang perlu dibantu, dan itu sudah cukup untuk membangunkannya di pagi hari.
Statusnya sebagai mahasiswa memang menjadi sesuatu yang menarik untuk digarisbawahi. Jika ia seorang pastur atau aktivis senior, mungkin orang akan menganggap tindakannya sebagai bagian dari tugas profesi. Tetapi Devis tidak memiliki mandat struktural. Ia bukan utusan gereja resmi, bukan koordinator lembaga sosial, bukan pula kader partai yang sedang mencari simpati. Ia hanyalah seorang pemuda yang mengambil keputusan sendiri, dengan risiko sendiri, dan dengan konsekuensi sendiri. Ia tidak punya bekingan dari siapa pun, dan justru karena itu, aku percaya ia bebas. Ia bebas dari kepentingan politik, bebas dari target pencitraan, bebas dari laporan pertanggungjawaban yang harus ia setorkan ke atasan. Kebebasannya terletak pada keterbatasannya: hanya motor, bensin, rokok, dan iman. Tiga yang pertama adalah benda mati yang tidak akan pernah mengkhianati—selama ia isi bensin dan nyalakan mesin, ia bisa pergi. Adapun iman, itu adalah bahan bakar yang tidak kasatmata, tetapi ternyata yang paling menentukan. Karena imanlah yang membuatnya tidak kehilangan arah ketika keempat ornamen lain tampak begitu rapuh.
Tindakannya menertibkan baliho dan penjual di depan gereja juga menarik perhatianku. Banyak orang akan melihat itu sebagai tindakan berani atau bahkan lancang. Tetapi Devis tidak melakukannya dengan emosi meluap-luap. Ia melakukannya dengan ketenangan yang membuat orang di sekitarnya terdiam. Ketika ia mencopot baliho-baliho partai, ia tidak berteriak melawan partai. Ia hanya mengembalikan fungsi gereja sebagai tempat ibadah, bukan tempat pajang iklan politik. Ketika ia melarang penjual di selasar, ia tidak menghina mata pencaharian mereka. Ia hanya mengingatkan bahwa ada batas ruang yang harus dihormati. Aku tidak tahu apakah ia sadar bahwa tindakannya persis seperti apa yang dilakukan Yesus di Bait Allah. Tetapi jika ia sadar, ia tidak pernah mengatakannya dengan sombong. Ia hanya melakukan, lalu selesai. Baginya, mungkin itu hanya soal tata tertib yang wajar. Tetapi bagiku, itu adalah pernyataan teologis yang kuat: bahwa rumah Tuhan harus menjadi ruang yang memfasilitasi pertemuan manusia dengan Tuhan, bukan dengan dagangan atau propaganda.
Akhirnya, aku sampai pada kesimpulan bahwa yang membuat Devis unik bukanlah besar tindakannya, tetapi kesederhanaan niatnya. Ia tidak bertanya apakah tindakannya akan dianggap sukses atau gagal. Ia tidak peduli apakah orang akan mengingat namanya atau melupakannya. Ia bekerja dengan kebijaksanaan—artinya ia tahu kapan harus turun tangan dan bagaimana cara yang tepat—tetapi ia juga bekerja dengan ketidaktahuan—artinya ia tidak pernah menganggap dirinya tahu semua jawaban. Ia datang sebagai pembelajar, bukan sebagai juru selamat. Dan ketika pekerjaannya selesai, ia tidak menuntut pengakuan. Ia hanya berkata dalam hati, "oh ini kebaikan". Mungkin itu adalah puncak spiritualitasnya: kemampuan untuk melihat kebaikan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, tanpa perlu dihiasi atribut. Kebaikan adalah kebaikan. Tuhan sudah bersama yang tertindas. Devis hanya kebetulan berada di jalur yang sama.
Maka aku menulis ini sebagai catatan untuk diriku sendiri, juga sebagai bentuk syukur bahwa aku memiliki kawan yang seperti itu. Aku tidak perlu melebih-lebihkan ceritanya, karena ceritanya sendiri sudah cukup. Aku tidak perlu menambahkan percakapan atau detail yang tidak aku ketahui, karena esensinya sudah jelas dari apa yang ia lakukan. Devis adalah orang biasa yang melakukan hal luar biasa dengan cara yang biasa-biasa saja. Dan justru dalam kebiasaan itulah aku melihat kejujuran iman yang jarang ditemukan. Semoga aku bisa memetik pelajaran darinya.
"Entahlah. Jika teologi diukur dari seberapa fasih kita bicara tentang Tuhan, Devis pasti kalah telak. Tapi jika diukur dari seberapa diam Tuhan bisa bicara lewat kita, aku rasa Devis tidak perlu menambahkan satu kata pun."

Urg bahkan gatau kalau mnh mikir sampe sedalam itu, kalau kata orang Sunda mah "eleuh eleuh yopann".
BalasHapusDisamping itu, i'm so grateful to have you as a brother. Orang yang aku tahu, meskipun aku mengecewakan ia akan selalu membuka tangan.