Lupa Earphone


Saya lapar. Itu saja motivasinya. Tidak ada yang lebih dalam dari itu, tidak ada pencarian spiritual, tidak ada momen epifani yang sedang saya kejar. Saya hanya lapar, dan kaki saya tahu jalan ke warteg langganan saya yang berada tidak jauh di utara dari gereja tempat saya menginap beberapa saat ini. Sederhana sekali hidup saya, rupanya. Saya berjalan sendirian, seperti biasa. Jalanan ke utara itu sudah cukup saya hafal, dan tidak ada yang perlu saya khawatirkan kecuali matahari yang agak terik dan perut yang agak protes. Di kanan kiri ada yang biasa-biasa saja, pemandangan yang tidak perlu saya deskripsikan terlalu panjang karena toh saya sedang tidak dalam misi jurnalistik. Saya sedang dalam misi makan siang. Tujuannya jelas, rutenya jelas, dan saya cukup puas dengan kejelasan sesederhana itu.

Warteg itu tidak jauh, tapi juga tidak dekat. Agak jauh, kata saya tadi, dan memang begitu adanya. Cukup jauh untuk membuat saya sedikit berkeringat, tidak terlalu jauh untuk membuat saya menyesal sudah keluar. Saya masuk, duduk, dan memesan seperti biasa. Nasi, tempe orek, kentang, kuah yang agak banyak. Tidak perlu lama berpikir. Tidak perlu membaca menu dengan seksama seperti orang yang pertama kali datang. Saya langganan di sini, dan langganan artinya saya sudah melewati fase eksistensial memilih lauk sejak lama. Itu sudah cukup dan nikmat. Tidak perlu diverifikasi oleh siapa pun, tidak perlu ada yang mengkonfirmasi bahwa pilihan lauk saya hari ini sudah tepat. Saya makan sendiri, seperti biasa, dan saya baik-baik saja dengan itu. Sungguh.

Tapi rupanya warteg tidak mengizinkan kesendirian yang terlalu tenang. Dua orang duduk di sebelah kiri saya, membawa serta seluruh drama percintaan mereka ke dalam radius pendengaran saya yang tidak dilindungi earphone karena saya lupa membawanya. Salah saya sendiri. Seharusnya saya lebih siap menghadapi kemungkinan bahwa warteg di dekat gereja bisa menjadi panggung romansa siang hari. Mau-tidak mau saya dengarkan. Awalnya biasa saja. Perempuan itu bertanya kepada sang pria, kamu hari ini kemana ada sayang? Sang pria menjawab bahwa ia di kost saja, tidak kemana-mana. Saya mengangguk dalam hati. Baik. Informatif. Singkat. Efisien. Lalu percakapan itu berjalan agak lebih jauh, dan si perempuan bertanya, kamu sayang aku ga? Saya yang sedang mengunyah kentang hampir tersedak. Bukan karena pertanyaannya mengejutkan, tapi karena saya tiba-tiba sadar bahwa rupanya cinta sudah lama masuk ke dalam domain epistemologi. Ia butuh verifikasi. Ia butuh bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Mungkin kalau bisa dilampirkan juga berita acara dan tanda tangan di atas materai, lebih baik lagi. Sang pria menjawab dengan tenang, sayang lah, masa enggak. Ah, defensif tapi hangat. Saya hampir mau tepuk tangan. Tapi perempuan itu belum selesai. Ia bertanya lagi, apa buktinya? Dan di situ saya berbicara dalam hati dengan sungguh-sungguh: oh, jadi cinta membutuhkan bukti empiris. Baik. Saya catat.

Sang pria, yang rupanya cukup tenang menghadapi tekanan epistemologis semacam ini, menjawab, buktinya kita masih bersama. Pragmatis sekali. Sederhana, tapi punya bobot. Semacam argumen yang kalau diajukan dalam sidang filsafat mungkin akan mendapat anggukan dari beberapa orang di pojok ruangan. Tapi perempuan itu tidak puas. Dan saya duduk di sana sambil kuah saya perlahan mendingin, bertanya-tanya, jenis bukti apa sebetulnya yang ia cari? Rekaman CCTV? Hasil pemeriksaan laboratorium? Surat keterangan dari RT setempat? Saya tidak tahu. Saya hanya orang yang mau makan siang dan kebetulan lupa earphone. Di akhir percakapan yang saya saksikan tanpa diminta itu, perempuan itu merayu sang pria untuk melakukan sleep call malam ini. Dan di situ saya berhenti sejenak dari kuah saya, karena saya merasa ada yang perlu saya pahami dulu sebelum lanjut makan. Sleep call. Dua manusia menyalakan kamera, lalu tidur. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang dilihat kecuali langit-langit kamar masing-masing, atau mungkin wajah yang sudah setengah tertidur dan mulutnya sedikit terbuka. Ah, bodohnya saya yang tidak mengerti gunanya. Saya pikir tidur itu aktivitas yang cukup bisa dilakukan sendiri, seperti makan di warteg. Tapi rupanya saya keliru. Mungkin memang ada logika di sana yang hanya bisa dijangkau oleh orang yang tidak makan sendirian.

Mereka berdua bergegas pulang tidak lama setelah itu. Saya masih di sana, kentang masih ada separuh, kuah masih hangat sedikit, dan kepala saya sudah pergi jauh ke tempat yang lain. Saya jadi ingat satu filsuf. Saya lupa namanya, tapi intinya saya ingat, dan itu sudah cukup untuk saya jadikan bahan pikiran siang ini. Kalau Descartes bilang cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada, filsuf yang saya lupa namanya itu bilang kira-kira sebaliknya: manusia tidak ada dari abstraksi yang mengawang di atas sana, tapi dari relasi yang dibentuk bersama orang lain. Kita ada karena kita bersama. Macmurray, kalau tidak salah. Atau mungkin bukan dia. Pokoknya ada yang bilang begitu dan saya cukup setuju, sampai batas tertentu, sampai batas sebelum sleep call. Karena kemudian muncul pertanyaan yang tidak bisa saya abaikan: apakah relasi harus sejauh itu? Apakah manusia sekarang sudah sedemikian takut akan kesendirian sampai tidur pun harus ditemani layar yang menyala, menampilkan wajah seseorang yang juga sedang tidur dan tidak bisa melihat siapa-siapa? Saya tidak mengejek. Saya sedang betul-betul bingung, dan kebingungan itu rupanya tidak bisa saya selesaikan hanya dengan menghabiskan kuah.

Kesendirian, bagi saya, bukan hukuman. Ia adalah ruang di mana saya bisa duduk bersama pikiran saya tanpa harus memenangkan argumen dengan siapa pun. Di kesendirian saya bisa berpikir tentang Macmurray tanpa ada yang menyela. Di kesendirian saya bisa hampir tersedak kentang tanpa ada yang bertanya kenapa. Ia bukan sesuatu yang perlu diisi dengan cepat sebelum ia sempat terasa. Ia justru perlu didiami, ditunggu, kadang-kadang dinikmati dengan nasi dan kuah yang agak banyak. Tapi saya paham juga bahwa saya mungkin minoritas dalam hal ini. Banyak orang yang mendengar kata kesendirian seperti mendengar kabar buruk. Mereka bergegas mengisinya, dengan teks, dengan panggilan, dengan layar yang menyala bahkan ketika mata sudah terpejam. Frankl pernah menulis bahwa manusia mencari makna, bukan sekadar lari dari kekosongan. Tapi kalau kekosongan itu sudah sedemikian rupa menakutkan sampai beberapa jam tidur tanpa teman terasa seperti kehilangan yang perlu segera diatasi, maka saya curiga yang dicari bukan makna. Yang dicari adalah sesuatu yang mengisi, terus-menerus, tanpa jeda, supaya kita tidak sempat mendengar suara kita sendiri yang mungkin sedang mencoba bicara sesuatu yang penting. Dan suara itu, kalau terus-menerus ditenggelamkan, pada akhirnya tidak akan berhenti bicara. Ia hanya akan bicara lebih keras, di waktu yang lebih tidak kita duga, dalam bentuk pertanyaan yang tidak tahu jawabannya sendiri: kamu sayang aku ga? Apa buktinya? Apa buktinya?

Perempuan itu menyayangi sang pria, itu jelas. Saya tidak meragukan itu bahkan sedetik pun. Tapi ada jarak yang tipis dan sering tidak terlihat antara mencintai seseorang dan menjadikannya satu-satunya tempat kita merasa ada. Ketika konfirmasi itu dibutuhkan terus-menerus seperti napas, ketika jawabannya sudah diberikan tapi tetap tidak cukup, ketika tidur pun tidak boleh dilakukan sendirian, maka yang sedang terjadi mungkin bukan lagi soal cinta. Yang sedang terjadi adalah ketergantungan yang mengenakan pakaian cinta dan berjalan ke mana-mana seolah tidak ada yang mencurigai kostumnya. Dan kostum itu, kalau dipakai terlalu lama, akan mulai terasa seperti kulit sendiri. Sampai kita lupa mana yang asli.

Saya bukan Stoik, saya ingin klarifikasi itu. Saya tidak sedang menganjurkan bahwa manusia harus cukup dalam dirinya sendiri dan tidak memerlukan siapa pun sama sekali. Saya hanya orang yang tadi berjalan agak jauh ke utara dari gereja karena lapar, memesan nasi dengan kuah agak banyak, dan kebetulan mendengar percakapan orang lain karena lupa membawa earphone. Tapi ada bedanya antara mencintai sebagai pilihan yang diperbarui setiap hari dan mencintai sebagai kepanikan yang menyamar jadi sayang. Yang satu terasa seperti rumah. Yang lain terasa seperti sesak napas yang diberi nama indah. Makanan saya habis. Saya bayar, saya pamit kepada ibu warteg yang sudah hafal pesanan saya. Di luar, udara siang masih cukup terik, tidak berbeda dengan waktu saya berangkat tadi. Saya berjalan pulang ke selatan, kembali ke arah gereja, sendirian, seperti berangkatnya. Perjalanan pulang selalu terasa lebih pendek dari perjalanan pergi, entah kenapa, padahal jaraknya sama. Mungkin karena perut sudah kenyang dan kepala sudah penuh, jadi tidak ada lagi yang perlu dicari.

Dan di perjalanan yang lebih pendek itu saya bertanya dalam hati, bukan dengan nada menghakimi, sungguh tidak, tapi dengan rasa ingin tahu yang jujur dari seseorang yang baru saja makan kentang sendirian: sudahkah kita belajar betah dengan diri sendiri, sebelum kita meminta orang lain tinggal bahkan di dalam tidur kita? Karena kalau belum, maka yang kita sebut cinta mungkin hanya kesendirian yang belum selesai, yang kita beri nama yang lebih romantis supaya tidak terlalu menyakitkan untuk diakui. Ah, tapi apa yang saya tahu. Saya bahkan lupa membawa earphone.

Komentar

Postingan Populer